SPESIFIKASI DAN STANDARISASI NICKEL ALLOY
PENDAHULUAN
·
Akhir
pertengahan abad ke-20 tumbuh fenomena perkembangan nickel- base corrosion resistant alloys.
Mengapa ?
·
Karena
secara metalurgis kompatibilitas nickel (Ni) sangat baik dengan elemen paduan yang lain, seperti ; chromium (Cr), molybdenum (Mo), cobalt (Co), iron (Fe), copper (Cu), tantalum (Ta), tungsten (W), dan nitrogen
(N).
·
Elemen
paduan tersebut diatas memberikan keunikan dan sifat ketahanan korosi yang sangat spesifik maupun sifat
ketahanan pada temperatur tinggi
dalam meng-handle media korosif di
lingkungan industri chemical process,
petrochemical, marine, pulp and paper, agrichemicals, oil and gas, energy conservation.
A.
NICKEL AND NICKEL ALLOY SYSTEMS
Secara umum material yang dikategorikan sebagai paduan
yang tahan korosi dikelompokan dalam
group seperti tersebut dalam tabel 1.
Tabel 1.
Paduan austenitic yang tahan di
lingkungan aqueous corrosion.
Alloy Group
|
Generic description
|
Typical alloy
|
I
|
Fe-base 18-8
austenitic SS
|
304, 316, 317
& L, dan LM grades
|
II
|
High-performance
austenitic SS alloys
|
904L, 20, 28
dan 825
|
III
|
Ni-base
general purpose alloys
|
200, 400, 600,
800 & H-grades.
|
IV
|
6% Mo super-austenitic
SS alloys
|
1925hMo,
Al-6XN, 254SMO, 654SMO*, 31*
|
V
|
Ni-base
special Ni-Mo family alloys
|
Controlled
chemistry B-2*, B-3*, B-4*, B-10*
|
VI
|
Nickel base
high performance alloys
|
G-3, N06030,
625, C-276, C-4,22, 2000*, 686*, 59*,
m MAT 21*
|
VII
|
Chromium-base
austenitic alloy
|
Alloy 33*
|
Catatan : * Pengembangan baru di tahun 1990’an
·
Peningkatan ketahanan korosi di lingkungan korosif yang
spesifik ditandai dengan perhitungan
nilai Pitting Resistance Equivalent
(PRE) seperti tersebut dalam tabel 2.
·
Semakin
tinggi nilai PREs memberikan indikasi material semakin tahan terhadap uniform
corrosion, localized corrosion,
dan environmental cracking.
·
Beberapa
elemen paduan umumnya tahan baik di lingkungan aqueous corrosion dan high temperature corrosion, tetapi
masing-masing memberikan sifat
karakteristik yang berbeda.
Tabel 2.
Nilai PRE beberapa material austenitic
corrosion resistant alloy.
UNS
|
Alloy
|
Ni
|
Cr
|
Mo
|
Fe
|
Others
|
PRE *
|
S31603
N08904
N08926
N08020
N08825
N08028
N08031
N06985
R20033
N06625
N10276
N06022
N06686
N06200
N06059
|
316L
904L
1925hMo
20
825
28
31
G-3
33
625
C-276
22
686
2000
59
|
12
25
25
38
40
31
31
48
31
62
57
57
56
57
59
|
17
21
21
20
22
27
27
23
33
23
16
22
21
23
23
|
2.3
4.8
6.5
2.4
3.2
3.5
6.5
7
1.6
9
16
13
16
16
16
|
66
48
46
34
31
36
32
20
32
3
5
3
2
2
1
|
-
- -
Cu
Cu,
N-0.2
Cu,
Cb
Cu
Cu
Cu,
N-0.2
Cu,
Cb
Cu,
N-0.4
Cb
W
W
W
Cu-1.6
-
- -
|
24
37
48
29
32
38
54
45
50
52
69
65
74
76
76
|
Catatan : * PRE
= Pitting Resistance Equivalent = %Cr + % (3.3
Mo) + 30N.
B.
UNALLOYED NICKEL
· Paduan
komersial umumnya alloy 200 dan alloy 201 yang mempunyai ketahanan korosi pada
temperatur rendah sampai sedang di lingkungan dilute
un-aerated solution dari non-oxidizing
mineral acids, sebagai HCl, H2SO4
dan H3PO4.
· Faktanya
karena Nikel (Ni) lebih mulia (noble) daripada besi (Fe), tetapi kurang mulia (less noble)
dibandingkan tembaga (Cu). Disamping itu Ni mempunyai potensial lebih tinggi untuk evolusi gas
hydrogen, sehingga hydrogen
tidak mudah dilepaskan dari umumnya senyawa non-oxidizing,
dan pasokan oksigen yang
diperlukan untuk mempercepat korosi.
· Karena
itu adanya spesies oksigen seperti ion cupric atau ferric, nitrate, peroksida atau oksigen; menyebabkan nikel akan terkorosi lebih cepat.
· Nikel
mempunyai ketahanan yang sangat bagus terhadap lingkungan alkali sehingga
berhasil untuk aplikasi caustic
evaporator tube. Akan tetapi
jika Nikel digunakan diatas temperatur
316◦C (600◦F),
maka disarankan atau
direkomendasikan dipilih versi karbon
rendah yaitu alloy 201 untuk mencegah
terjadinya fenomena graphitisasi batas
butir yang berakibat
menurunya atau
hilangnya duktilitas logam dan menyebabkan
kerapuhan logam (embrittlement).
· Nikel
sangat tahan terhadap fenomena chloride
stress corrosion cracking, tetapi peka
terhadap caustic cracking di lingkungan atau larutan
encer- teranginkan (aerated solution) dalam kondisi menerima tegangan yang besar (severely stressed conditions). Ni-Cr-Fe alloys, misalnya alloy 600 lebih tahan dibawah kondisi tersebut
tadi.
·
Nikel
mempunyai ketahanan tinggi terhadap korosi yang disebabkan oleh natural fresh water
dan aliran air
laut yang
cepat (rapidly flowing
seawater). Akan tetapi apabila kondisi fluidanya stagnan, maka fluida terjebak di celah-celah konstruksi; maka
terjadi korosi celah sumuran
yang hebat (severe pitting corrosion).
· Ketahanan
korosi Nikel terhadap oxidizing acids
seperti asam nitrat buruk, meskipun cukup tahan terhadap kebanyakan non-aerated organic acids dan organic acids.
·
Anhydrous ammonia atau larutan ammonium hidroksida encer
(2%) tidak menyerang nikel. Akan tetapi jika konsentrasinya tinggi dapat menyebabkan serangan korosi yang cepat
karena terbentuk produk korosi kompleks
yang larut (Ni-NH4).
·
Nikel
mempunyai ketahanan pada temperatur tinggi di lingkungan halogenik seperti reaksi chlorinasi atau
fluorinasi. Sifat ini dimanfaatkan
di banyak proses kimiawi modern,
karena ternyata film nickel-halide mempunyai tekanan uap relative rendah dan
titik lebur yang tinggi.
·
Nikel
telah berhasil dimanfaatkan dalam proses produksi high purity caustic dalam range konsentrasi antara 50 – 75%, di dalam industri petrochemical,
CPI, meng-handle makanan, serta
produksi synthetic fiber.
C.
NICKEL-COPPER ALLOY.
·
Ada dua paduan utama dalam system ini, yaitu
alloy 400 dan versi age- hardenable
yaitu alloy K-500.
·
Alloy
400 sudah dikembangkan sejak awal abad 20, meskipun sampai saat ini masih dimanfaatkan dan diterapkan di
dalam berbagai industri seperti petrochemical, marine, refinery.
·
Adanya
kandungan besi (Fe) di dalam system paduan akan meningkatkan ketahahan terhadap kavitasi dan erosi di
dalam pemakaian condenser tube. Ketahanan
ini sangat penting dibawah kondisi kecepatan alir yang tinggi sebagai penyebab erosi, seperti dialami oleh propeller shafts, pump- impeller blades, casings, condensers, maupun heat-exchanger tubes.
·
Laju korosi di lingkungan air laut yang bergerak umumnya
kurang dari 0.025
mm/year.
·
Paduan
dapat mengalami korosi sumuran di dalam lingkungan air laut yang diam (stagnant seawater), tetapi kecepatan serangannya lebih rendah daripada yang dialami oleh material
nikel murni. Dengan meningkatnya kandungan Nikel (mendekati 65%), paduan secara umum tahan terhadap chloride
stress corrosion cracking.
·
Ketahanan
korosi homogen (general corrosion) alloy
400 di lingkungan non-oxidizing mineral acids lebih baik
daripada material nikel. Akan tetapi
ketahanan korosinya sama-sama
buruk di lingkungan media mengoksidasi seperti
asam nitrat, ferric chloride, cupric
chloride, wet chlorine, chromic acids,
sulfur dioxide, dan ammonia.
·
Di
lingkungan un-aerated dilute hydrochloric
dan sulfuric acid solution, alloy
400 mempunyai ketahanan untuk konsentrasi 15% pada temperatur kamar, dan
sampai konsentrasi 2% pada temperatur agak tinggi,
tetapi tidak melampaui 50◦C.
·
Oleh
karena sifat karakteristik yang spesifik dari alloy 400,
maka dipakai untuk proses yang
menggunakan chlorinated solvent dan
menghasilkan hydrochloric acid melalui proses hydrolysis; yang jika dipakai standard stainless steel akan
mengalami kerusakan.
·
Alloy
400 memiliki ketahahan korosi yang baik pada
ambient temperature di hampir semua konsentrasi lingkungan
HF tanpa adanya udara. Apabila dalam kondisi aerated solutions dan temperatur tinggi,
maka akan meningkatkan laju korosi.
·
Alloy
400 peka terhadap SCC di lingkungan moist
aerated hydrofluoric atau hydroflurosilicic acid vapor. Tetapi tendensi ini dapat di eliminir dengan melakukan de-aeration environment,
atau melakukan stress relieving annealing.
·
Lingkungan
netral dan alkaline salt solution
seperti chloride,
carbonates, sulfates, dan
acetates berdampak kecil terhadap alloy 400,
meskipun pada konsentrasi tinggi
serta temperatur mendekati titik didihnya.
Oleh karena itu alloy 400
digunakan secara luas di plant untuk
kristalisasi garam (salts) dari saturated brine.
·
Alloy
K-500 merupakan age-hardenable alloy
yang juga mengandung Aluminium (Al)
dan Titanium (Ti). Mempunyai sifat
ketahanan korosi yang baik seperti
alloy 400 dengan sifat tambahan yaitu kekuatan dan kekerasannya meningkat serta terjaga kekuatannya sampai
temperatur 600◦C.
·
Alloy
K-500 mempunyai sifat low magnetic
permeability dan tetap bersifat non-magnetic sampai temperatur – 134◦C.
·
Beberapa
aplikasi alloy K-500 diantaranya untuk pump
shafts, impellers, blade and scrappers,
oil-well drill collars, springs,
valve trains, tools, dll.
Paduan ini terutama dimanfaatkan
untuk lingkungan marine dan oil & gas industrial.
·
Sebaliknya
alloy 400 lebih beraneka guna,
banyak dimanfaatkan sebagai roofs,
architectural parts, tube boiler
feed water heaters, maupun seawater application. Alloy 400 dipilih untuk peralatan di lingkungan
proses HF alkylation, produksi dan
handling asam HF, dan di dalam proses refining
uranium,
destilasi dan unit kondensasi, overhead condenser pipes di dalam industri refineries dan petrochemical.
D.
NICKEL-IRON ALLOYS
·
Paduan
ini mengandung 36 – 80% nikel (Ni) secara umum dipilih untuk sifat fisik khusus,
seperti koefisien muai ekspansinya rendah,
demikian pula sifat magnetiknya.
·
Semakin
tinggi kandungan nikel (Ni) sekitar 76 – 80% dengan tambahan elemen Fe (besi) dan Mo (molybdem), maka permeabilitasnya
magnetic- nya semakin tinggi
dan dapat berfungsi sebagai inductive
component di dalam transformer,
relay parts, dan screens.
Paduan
dengan 36% nikel (Ni) mempunyai
sifat ekspansi yang ekstrem rendah.
·
Alloy
ini mempunyai ketahanan korosi yang cukup baik terhadap variasi industrial
environment.
E.
NICKEL-SILICON ALLOYS
·
Cast Ni-Si alloys, secara tipikal mengandung 8 sampai 10%
Silikon (Si). Material ini dikembangkan untuk handling asam sulfat dalam kondisi panas atau mendidih dengan konsentrasi
tinggi.
·
Alloy ini juga tahan terhadap asam nitrat dengan
konsentrasi di atas 50%, bersama
dengan campuran asam nitrat –sulfat.
·
Paduan
Ni-Si dengan kandungan Si 4-5% dikembangkan akhir-akhir ini untuk meng-handle high-temperature, high-concentration
sulfuric acid environment.
·
Satu
kelemahan alloy ini adalah laju korosinya meningkat ketika konsentrasi asam sulfat turun dibawah 95%; disamping itu ketahanan terhadap localized attack (misalnya korosi sumuran) juga buruk di lingkungan cooling
water yang mengandung chloride.
F.
NICKEL-MOLYBDENUM ALLOYS
·
Alloy
B : merupakan alloy keluarga Ni-Mo
yang dikembangkan di tahun 1920’an. Alloy
ini peka terhadap HAZ corrosion di
lingkungan non- oxidizing
acids (acetic, formic, dan hydrochloric), karena kandungan unsur karbon yang tinggi.
·
Dalam
dekade 1960’an dengan meningkatnya teknologi AOD melting, dikembangkan
alloy B-2, yang mampu menjawab problem HAZ
corrosion, tetapi kemampuan
fabrikasinya jelek.
·
Perkembangan
terakhir dengan mengontrol kimiawinya alloy B-2, B-3 dan B-4 mampu menjawab kedua problem diatas
dengan mengeliminir atau mengurangi
terbentuknya detrimental intermetallic
phases seperti b-phase Ni4Mo,
dan selanjutnya meningkatkan ketahanan korosinya.
·
Mengontrol
aspek kimiawi alloy B-2, B-3 dan B-4 direkomendasikan untuk meng-handle
HCL pada temperatur 70 sampai 100◦C disemua konsentrasi, dan dalam meng-handle wet HCl gas. Alloy ini mempunyai ketahanan yang unggul terhadap H2SO4
murni sampai titik didihnya dengan
konsentrasi < 60%.
·
Paduan
ini mempunyai keterbatasan jika unsur Chromium (Cr) berkurang, dan menghasilkan ketahanan korosi yang
sangat buruk di lingkungan yang
mengoksidasi.
·
Alloy
B-2 telah berhasil diaplikasikan dalam produksi asam asetat, farmasi, alkylation
of ethyl benzene, styrene, cumene, organic sulfonation reactions, melamine,
herbicides, dan masih banyak lagi dari produk lain.
·
Alloy
B-4 : Ini merupakan perbaikan versi alloy B-2 yang telah di uji dengan berbagai macam aplikasi. Paduan ini
berhasil di dalam peralatan produksi
resin, dimana ada hydrochloric acid
(dihasilkan dari adanya aluminium
chloride) di dalam area temperatur 120 – 150◦C.
·
Salah
satu perusahaan kimia di Spanyol telah menguji alloy-B4 untuk peralatan produksi peptisida, dimana
kondisinya sangat korosif diakibatkan oleh
hydrochloric acid (paduan Group C
total tidak cukup mampu dibawah kondisi
tersebut). Alloy B-4 mampu menjawab
kedua problem, yaitu problem fabrikasi
seperti yang dihadapi alloy-B2, dan kepekaan terhadap SCC.
·
Alloy
B-10 : merupakan pengembangan terbaru dari alloy keluarga Ni-Mo; untuk menggantikan kelemahan utama alloy
B, B-2, B-3 dan B-4 yaitu ketidakmampuan
untuk meng-handle oxidizing species
di dalam media korosif. Dibawah
kondisi ini, alloy keluarga-C dengan kandungan Cr tinggi seperti alloy C-276, atau alloy 59 cukup mampu meng-handle oxidizing species, tetapi prosentase Mo
yang tidak cukup mampu berinteraksi dengan kondisi mereduksi yaitu acidic hydrochloric atau sulfuric
acid dengan konsentrasi tinggi.
·
Alloy
B-10 merupakan paduan diantara Alloy-C dan Alloy-B, dengan kandungan Cr lebih tinggi daripada alloy-C,
tetapi lebih rendah daripada alloy-B,
dalam hal ini masing-masing kandungan Cr sekitar 8% dan besi (Fe) sekitar 6% mampu berinteraksi
dengan oxidizing spesies yang ada di dalam
lingkungan.
·
Paduan
ini juga berhasil di aplikasikan di dalam lingkungan yang memicu terjadinya crevice
corrosion di dalam waste incinerators.
Tabel 3.
Nickel-copper alloys
Alloy/UNS
|
Ni
+ Co
|
Cu
|
Fe
|
Mn
|
C
|
Al,
Ti
|
400/N04400
K500/N05500
|
63.0
min
63.0
min
|
31
30
|
2.5
2.0
|
2.0
1.5
|
0.30
0.18
|
---
2.8
, 0.6
|
Tabel 4.
Ni-Mo Alloy
Alloy/UNS
|
Ni
|
Mo
|
Fe
|
Cr
|
C
|
B / N10001
B-2 /N10665
B-3 /N10675
B-4/N10629
B-10 /N10624
|
Bal.
Bal.
Bal.
Bal.
Bal.
|
28
28
28
28
24
|
5
1.8
1.5
3
6
|
0.5
0.7
1.5
1.2
8.0
|
0.03
0.005
0.005
0.005
0.005
|
Tabel 5. Unalloyed Nickel
Alloy/UNS
|
Ni
|
Cu
|
Fe
|
Mn
|
C
|
200/N02200
201/N02201
|
99.0
min
99.0
min
|
0.25
0.25
|
0.40
0.40
|
0.35
0.35
|
0.15
0.02
|
G.
Ni-Cr-Fe-Mo-Cu Alloys
Paduan Ni-Cr-Fe dengan Mo dan Cu
menghasilkan paduan yang meningkat ketahanan korosinya terhadap hot reducing acids seperti sulfuric, phosphoric, dan hydrofluoric acids, yang mengandung oxidizing species.
Kandungan Cu sekitar 2% atau kurang, Cr 20-33%, dan Mo antara 1,5-7%. Jika Ni digantikan Fe untuk mengurangi cost, maka hasilnya paduan yang tahan
korosi baik di lingkungan asam mengoksidasi ataupun mereduksi (kecuali
hydrochloric), senyawa organik, serta larutan asam, netral, dan garam alkali.
H. ALLOY
825
·
Alloy
825 adalah modifikasi alloy 800 dengan menambah Mo (3%), Cu (2%) dan Ti (0,9%).
·
Elemen
paduan tersebut meningkatkan ketahanan
korosi di berbagai lingkungan
korosif dan terhadap aqueous corrosion.
·
Apabila
kandungan nikel-nya meningkat sampai 42% akan meningkatkan ketahanan terhadap chloride-ion SCC ; melalui uji coba di laboratorium dengan lingkungan larutan magnesium chloride dalam kondisi
mendidih.
·
Dengan
meningkatnya kandungan nikel (Ni) bersama dengan kandungan elemen Mo dan Cu tinggi akan memperbaiki
ketahanan korosi di lingkungan
mereduksi seperti yang mengandung asam sulfat dan posfat.
·
Berdasarkan
percobaan di laboratorium dan pengalaman operasional terbukti alloy 825 tahan terhadap boiling solution sulfuric acids sampai dengan konsentrasi 40% berat, dan sampai temperatur maksimum 66◦C. Ketahanan korosinya juga meningkat dengan
adanya oxidizing spesies selain oxidizing chloride yang terbentuk dari proses hidrolisa HCl.
·
Paduan
ini juga cocok untuk aplikasi di lingkungan asam campuran yang mengandung asam nitrat, dan cupric serta ferric sulfates.
·
Di lingkungan asam posfat dengan konsentrasi 85%, paduan
ini tahan sampai temperatur titik
didih asam tersebut. Kandungan
chromium yang tinggi memberikan
ketahanan terhadap variasi media mengoksidasi seperti asam nitrat, nitrat, dan garam-garam mengoksidasi. Penambahan elemen titanium
(Ti) dan dengan perlakuan panas yang sesuai akan mengakibatkan stabilisasi paduan terhadap kepekaan korosi
interkristalin.
·
Alloy 825 merupakan paduan serbaguna karena mampu meng-handle media
korosif yang sangat variatif, meskipun secara perlahan posisinya digantikan dengan yang lebih superior,
khususnya terhadap korosi lokal; yaitu
alloy-G, dan 6% moly superaustenitic
stainless steel, seperti alloy 1925hMo
(N08926) dan alloy 31 (N08031).
Terutama untuk aplikasi di lingkungan petroleum-refineries dan petrochemical (tanks, agitator, valves, pumps), dan perlengkapan untuk produksi
ammonium sulfat.
I.
ALLOY G/G-3/G30
·
Alloy
G merupakan pengembangan dari alloy F, dengan komposisi serupa tetapi ditambahkan tembaga (Cu) sekitar
2%, untuk meningkatkan ketahanan
korosi di lingkungan asam sulfat dan posfat.
·
Alloy
G dikembangkan ditahun 1960’an, mempunyai sifat ketahanan korosi yang baik dalam kondisi as-welded, yang mampu meng-handle efek korosi dari oxidixing
dan reducing agents.
·
Alloy
G juga mempunyai ketahanan terhadap campuran asam, fluorosilicic acid,
senyawa sulfat, asam nitrat konsentrasi tinggi, flue gas dry coal-fired power plant, dan asam
hydrofluoric.
·
Alloy-G
kandungan Ni dan Mo lebih tinggi (daripada alloy 825) membuat paduan ini lebih kebal terhadap chloride SCC, disamping ketahanannya yang sangat baik terhadap korosi lokal. Akan tetapi alloy
ini sekarang sudah usang, dan posisinya
digantikan dengan alloy-G – 3.
·
Alloy G-3 adalah versi alloy-G yang ditingkatkan,
khususnya lebih tahan terhadap HAZ attack, dan sifat mampu lasnya lebih
baik. Untuk kandungan karbon rendah mampu memperlambat
kinetika presipitasi karbida, dan dengan
sedikit kandungan Mo memberikan ketahanan terhadap korosi lokal.
·
Alloy G-3 menggantikan banyak material alloy-G dihampir
semua aplikasi industri, termasuk
alloy 825, karena diperlukan ketahanan terhadap korosi lokal yang jauh lebih baik.
·
Alloy G30 modifikasi dari alloy G-3 yaitu dengan menambah
elemen Cr dan mengurangi elemen Mo. Paduan ini mempunyai ketahanan yang bagus di lingkungan asam posfat maupun campuran asam nitrat/hydrochloric dan asam nitrat/hydrofluoric. Paduan
ini juga tahan di lingkungan asam sulfat.
·
Aplikasi
alloy G30 antara lain di industri asam posfat, campuran asam, bahan bakar nuklir, komponen / peralatan
untuk operasi pickling, petrochemical,
industri agrochemical (fertilizer, insecticides, peptisida, dll.),
serta industri pertambangan.
J. 6 Mo ALLOYS
·
Alloy
ini dikembangkan ketika diketahui bahwa Cr dan Mo meningkatkan ketahanan terhadap korosi lokal, dan
dengan bertambahnya Ni dan N akan meningkatkan
ketahanan terhadap Chloride-SCC.
·
Alloy
6 Mo merupakan material kategori cost-effective,
dibandingkan High Ni-Cr-Mo alloys yang ketahanan
korosinya relatif sama tetapi harganya jauh
lebih mahal.
·
Alloy
1925hMo diturunkan dari alloy 904L dan alloy 28 diturunkan dari alloy 31; dengan menambahkan Mo dari 4,5%
menjadi 6.5% dan diperkuat dengan 0,2% Nitrogen, akan memberikan
keuntungan meningkatnya ketahanan terhadap korosi lokal, meningkat
sifat mekanisnya dan stabilitas thermalnya.
·
Alloy
1925hMo mampu-las dengan over-alloyed
filler metals seperti alloy 625,
C-276, atau alloy 59 yang mengimbangi segregasi Mo di dalam area inter-dendritic di area las
(weldments).
·
Alloy
31 hanya mampu di las dengan alloy 59.
Dimana alloy 31 dikenal sebagai “advanced
6 Mo alloy”, dengan kandungan Cr-Ni tinggi, akan memberikan ketahanan korosi yang tinggi di dalam berbagai
media korosif.
·
Alloy
31 ketahanan korosi lokalnya lebih baik daripada Ni-Cr-Mo alloy 625 dan alloy G30, seperti diperlihatkan dari pengujian korosi
ASTM G- 48. Demikian juga
ketahanan korosi homogen / uniform di dalam asam sulfat jauh lebih baik daripada alloy C-276 dan alloy 20.
·
Alloy
31, pada konsentrasi asam 80% dan temperature tinggi di atas 80◦C, akan mulai aktif; tetapi pada
konsentrasi < 80% dan temperatur sampai 100◦C
tetap pasif.
·
Alloy
31, ketahanan korosi homogen di dalam asam posfat masih sama dengan alloy G30; kelebihannya densitinya
rendah, konduktivitas panasnya lebih
baik dan higher allowable ASME stresses.
·
Oleh
karena itu, alloy 31 mempunyai kontribusi harga lebih rendah untuk aplikasi shell
dan tube heat exchanger di dalam
lingkungan asam posfat dengan
konsentrasi 42 – 54%, atau lebih tinggi lagi.
·
Alloy
6Mo secara luas di aplikasikan untuk lingkungan industri pulp & paper, asam posfat, copper smelter, produksi asam sulfat, dan reklamasi penyimpanan asam.
K.
ALLOY 20
·
Alloy
21 versi pertama diperkenalkan ditahun 1951 untuk aplikasi sulfuric acid service.
Kemudian dimodifikasi dengan menambahkan columbium (Cb) atau niobium (Nb), kemudian dikenal menjadi alloy 20 Cb.
·
Alloy
20Cb mampu di las tanpa perlu proses post-weld
heat treatment (PWHT).
·
Penelitian
dan pengembangan berikutnya diperkenalkan alloy 20Cb3, yang lebih dikenal sebagai alloy 20. Alloy 20 lebih berhasil karena lebih tahan terhadap media asam sulfat dan stress corrosion cracking.
·
Alloy
20 di aplikasikan di manufacture
synthetic rubber, high octane gasoline,
solvent, explosives, plastics, synthetic
fibers, chemical, pharmaceutical, food processing, dll.
·
Meskipun
punya kelebihan, tetapi karena kandungan Mo tidak cukup untuk menahan korosi lokal di dalam lingkungan
asam chloride dengan pH rendah.
L.
ALLOY Ni-Cr-Mo C-FAMILY
·
Alloy-C
merupakan alloy tertua dari keluarga-C, telah digantikan by alloy C-276 di awal
tahun 1960’an karena hasil perbaikan dan pengembangan di bidang teknologi peleburan.
·
Antara
tahun 1983 dan 1996 ada 4 alloy baru yang diperkenalkan secara komersial, yaitu alloy 22 (1983), alloy 59
(1989), alloy 686 (1995) dan alloy 2000
(1996).
·
Berdasarkan
komposisi kimianya alloy 2000 sama dengan alloy 59, dengan tambahan elemen Cu 1,6% agar tidak
melanggar patent yang sudah dimiliki alloy 59.
·
Alloy
59 merupakan ternary alloy Ni-Cr-Mo
family yang paling murni, mempunyai
nilai PRE tinggi dan kandungan Fe-nya terendah Keadaan ini memberikan perbaikan ketahanan korosi
dibandingkan alloy lain di dalam lingkungan variasi standard laboratory environment (Tabel 6).
Tabel 6.
Uniform corrosion rates of some Ni-Cr-Mo
alloys in mpy *)
Boiling media
|
C-276
|
22
|
686
|
2000
|
59
|
ASTM 28A
ASTM 28B
Green Death
10% HNO3
65% HNO3
10% H2SO4
50% H2SO4
1.5% HCl
10% HCl
10% H2SO4 + 1% HCl
10% H2SO4 + 1% HCl (90◦C)
|
240
55
26
19
750
23
240
11
239
87
41
|
36
7
4
2
52
18
308
14
392
354
92
|
104
38
8
-
231
-
-
5
-
-
-
|
27
4
-
-
-
-
-
2
-
-
-
|
24
4
5
2
40
8
176
3
179
70
3
|
Note : *) To convert to mm/y multiply by 0.0254
·
Mengeliminir
tungsten (W) dan tembaga (Cu) serta mengurangi kandungan Fe serendah mungkin menghasilkan paduan
yang sifat stabilitas thermalnya sangat
bagus. Disamping ketahanan terhadap uniform corrosion maupun thermal
stability yang lebih baik, juga ketahanan terhadap korosi lokal melampui
alloy C-276, alloy 22 dan alloy 2000 (Tabel 8).
·
Korosi
local selama ini menyebabkan kerusakan yang lebih sering di lingkungan Chemical Process Industries (CPI), sehingga seringkali menyebabkan un-schedule
shutdown, dan secara ekonomis mengakibatkan kerugian yang sangat besar.
Sedangkan untuk unifom corrosion pada
paduan tinggi ini tidak menyebabkan
/menimbulkan problem utama.
Tabel 7.
Corrosion rate in mils per year *
Media
|
C-276
|
22
|
686
|
2000
|
59
|
G 28A
G 28B
|
> 500 **)
> 500 **)
|
> 500 **)
339 **)
|
872 **)
17 **)
|
116 **)
> 500 **)
|
40 ***)
4 ***)
|
Note :
*) As shown in ASTM G-28A
and G-28B after sensitization at 1600F (871C) for 1 hour.
**) Alloy C-276, 22, 2000
and 686 – heavy pitting attack with grains falling due to deep inter-granular
attack.
***) Alloy 50 – No pitting
attack.
Tabel 8.
Localized corrosion resistance in “Green
Death” Solution.
Alloy
|
PRE
|
CPT,
◦ C
|
CCT,
◦C
|
22
C-276
2000
686
59
|
65
69
76
74
76
|
120
110
110
> 120 *)
> 120 *)
|
105
105
100
110
110
|
Note :
PRE = Pitting resistance
equivalent ; CPT = Critical pitting temperature; CCT = Critical crevice
temperature
*) Above 120◦C, the Green Death solution (11,5% H2SO4 + 1.2% HCl + 1% FeCl3 + 1% CuCl2)
chemically breaks down.
·
Alloy
-C (1930’an sampai 1965) diperkenalkan dengan adanya kompabilitas elemen Ni dan Cr dan Mo dan optimalisasi antara
alloy Ni-Cr dan Ni-Mo. Di tahun 1930’an alloy ini beraneka guna dan
tersedia sebagai corrosion resistant alloy untuk meng-handle liquid di lingkungan CPI.
·
Akan
tetapi dengan adanya permasalahan ketika alloy-C di welding seringkali peka
terhadap serangan intergranular corrosion
di daerah HAZ, khususnya di lingkungan
media mengoksidasi, pH rendah, dan lingkungan yang
mengandung unsur halida. Oleh karena
itu untuk aplikasi fabrikasi vessel,
harus dilakukan solution heat-treatment
untuk menghilangkan detrimental weld HAZ precipitates.
·
Selama
akhir tahun 1940’an sampai 1950’an, CPI secara bertahap berkembang proses-proses baru yang memerlukan material tanpa
batasan harus mengalamai “solution heat treatment” setelah welding, harus tahan terhadap media oksidasi yang sangat agresif,
dimana alloy-C tidak cukup mengandung
Cr untuk memelihara sifat pasif-nya; sehingga mengalami laju korosi uniform sangat tinggi.
·
Alloy
C-276 (1965 sampai sekarang), diperkenalkan untuk mengatasi keterbatasan alloy-C, dengan mengubah
komposisi kimianya (oleh BASF, perusahaan
kimia di Jerman); yaitu meredusir elemen karbon ( C ) dan silicon ( Si ) serendah mungkin,
masing-masing 50 ppm C dan 400 ppm Si, melalui
proses peleburan baru yaitu proses argon-axygen
decarburization (AOD). Alloy C-276 sekarang di produksi di USA dibawah lisensi
BASF Jerman (patent kadaluwarsa di
tahun 1982).
·
Alloy
C-276 cocok untuk aplikasi as-welded
condition tanpa mengalami serangan
korosi intergranular yang serius.
·
Alloy C-4 (1970 sampai sekarang), diperkenalkan dengan
mengurangi sampai 10 kalinya
kandungan C dan Si, menghilangkan elemen W, mengurangi
elemen Fe dan menambah unsur Ti.
Perubahan komposisi diatas
menghasilkan peningkatan dalam kinetika presipitasi fasa intermetalik.
·
Ketika alloy C-4 di ekspos di daerah sensitisasi 550
sampai 1090◦C
untuk periode waktu yang cukup,
presipitasi fasa intermetallik dan fasa “mu”, dengan
struktur (Ni,Fe,Co)3(W,Mo,Cr)2 yang umumnya mengendap
pada batas butir praktis di eliminir. Fasa “mu” mengurangi sifat duktilitas, ketangguhan dan ketahanan korosi alloy C-4.
·
Ketahanan korosi homogen alloy C-276 dan alloy C-4
relatif sama di dalam banyak
lingkungan korosif; kecuali di lingkungan strongly
reducing media seperti asam hydrochloric,
maka alloy C-276 lebih baik. Sebaliknya di
lingkungam media mengoksidasi, alloy C-4 lebih baik.
·
Alloy
C-4 menawarkan ketahahan korosi yang lebih baik untuk berbagai variasi media korosif, termasuk asam organik
dan larutas asam chlorida.
·
Alloy 22 (1982 sampai sekarang); dikembangkan setelah
paten C-276 kadaluwarsa. Penemunya meng-klaim bahwa fasa “mu” yang di
kontrol di alloy C-4
dikendalikan melalui sejumlah “electron
vacancy” dengan cara menghilangkan
elemen W dan mengurangi Fe.
·
Akan tetapi hasilnya ketahanan korosi berkurang terhadap reducing chloride
solutions, karena unsur W bermanfaat terhadap lingkungan tersebut dihilangkan.
·
Oleh karena kedua alloy C-276 dan C-4 mempunyai laju
korosi tinggi di lingkungan
mengoksidasi, larutan non-halida, karena level Cr-nya relative rendah samapai 16% Cr. Maka alloy 22 dengan Cr tinggi dan optimalisasi keseimbangan Cr, Mo dan W diperlukan
dalam menghadapi lingkungan mengoksidasi,
sehinggan sifat korosinya meningkat dan stabilitas thermalnya lebih baik.
·
Komposisi alloy 22 berkisar 21% Cr, 13% Mo, 3% W dan 3%
Fe serta sisanya Ni; meskipun
ketahahan korosinya lebih baik daripada alloy C-276 dan C-4 untuk lingkungan mengoksidasi, yang diperlihatkan sedikit
lebih baik ketahanan korosi sumurannya
(better pitting corrosion resistance) di dalam “Green Death” solution; tetapi di lingkungan
yang mereduksi dan di kondisi severe localized crevice corrosion,
alloy 22 lebih jelek daripada alloy
C-276.
·
Alloy 59 (1990 sampai sekarang), dikembangkan di Jerman
untuk mengatasi kelemahan alloy 22 dan
C-276; disamping untuk menyediakan solusi
di sector CPI, petrochemical, pollution
control, dan industri lainnya.
·
Alloy 59 mempunyai kandungan Cr-Mo yang tertinggi dengan
kandungan Fe terendah (<1%). Disamping mengandung Ni tertinggi serta bentuk termurni dari alloy Ni-Cr-Mo, artinya tanpa ada
tambahan elemen seperti W, Cu, atau Ti.
·
Karena
kemurnian dan keseimbangan alloy 59 dalam fasa terner Ni-Cr-Mo, maka sifat stabilitas thermalnya sangat
baik.
·
Alloy 686 (1993 sampai sekarang), dengan komposisi serupa
dengan C- 276.
Perbedaannya Cr ditambah dari 16% menjadi 21% Cr, sementara level Mo dan W dipertahankan tetap. Dengan
komposisi ini, dikatakan highly over-alloyed,
kombinasi antara Cr, Mo dan W total kandungan 41%.
·
Untuk
menjaga strukturnya tetap tunggal austenitis, perlu dilakukan solution
annealed pada temperatur sangat tinggi sekitar 1200◦C, diikuti dengan pendinginan cepat untuk mencegah
terjadinya presipitasi fasa intermetallik.
·
Alloy
686, sifat stabilitas thermalnya lebih rendah daripada alloy 59, dari dari berbagai test di site di lingkungan hazardous
waste incinerator, ketahanan
korosinya 5 kali lebih rendah daripada alloy 59 (Tabel 9).
Tabel 9. Hazardous waste incineration scrubber corrosion data *)
Alloy
|
Mpy **)
|
Remarks
|
59
686
22
31
622
C-276
625
825
|
1.1
5.4
6.7
7.1
12.1
35.1
58.6
117
|
Clean
Clean
Clean
Clean
Weld attack
Clean
Rough
Pitting attack
|
Note : *)3M study; **) To convert to mm/y multiply by 0.0254
·
Alloy
2000 (1995 sampai sekarang), yang menambahkan elemen Cu 1,6% kedalam komposisi alloy 59.
·
Dengan
ditambahkannya Cu, maka stabilitas thermalnya relatif lebih rendah dibandingkan alloy 59, disamping
itu ketahanan korosi lokalnya juga
lebih rendah.
Tabel 10.
Uniform corrosion resistance relative to
environment redox conditions.
g
n
i
z
u
d
e
R
¯
O
x
I
d
I
z
I
n
g
|
→ → → Alloy increasing
chromium content →
→ →
|
|||||||||
Media
|
B-2 alloy
|
C-276 alloy
|
C-4
alloy
|
625 alloy
|
H-9M alloy
|
C22 alloy
|
Alloy
255
|
Ultimet
alloy
|
G-30 alloy
|
|
1% HCl boiling
|
Å
|
ð
|
ð
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
|
2,5% HCL 90◦C
|
Å
|
ð
|
D
|
à
|
à
|
Å
|
à
|
Å
|
à
|
|
10% H2SO4 boiling
|
Å
|
D
|
ð
|
ð
|
D
|
ð
|
D
|
à
|
D
|
|
50% H2SO4 66◦C
|
Å
|
Å
|
ð
|
D
|
Å
|
Å
|
Å
|
D
|
Å
|
|
50% H3PO4 boiling
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
|
3% HF 79◦C
|
ð
|
ð
|
ð
|
ð
|
ð
|
ð
|
à
|
D
|
D
|
|
54% P2O5 116◦C
|
à
|
D
|
D
|
ð
|
ð
|
ð
|
ð
|
ð
|
Å
|
|
10% HNO3 boiling
|
à
|
ð
|
ð
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
Å
|
|
G-28A *)
boiling
|
à
|
à
|
à
|
D
|
ð
|
D
|
ð
|
ð
|
ð
|
|
G-28B
**) boiling
|
à
|
à
|
à
|
à
|
à
|
ð
|
à
|
Å
|
à
|
|
66% HNO3 boiling
|
à
|
à
|
à
|
D
|
D
|
à
|
ð
|
ð
|
Å
|
|
Note : *) 50% H2SO4 + 42 g/l
Fe2(SO4)3 **)
23%H2SO4 + 1.2%
HCl + 1%FeCl3 + 1% CuCl2
|
||||||||||
Remark : Corrosion
rate (mpy) : Å 0-5 mpy ; ð 6-20 mpy ; D 21-50
mpy ; à > 51 mpy
|
||||||||||
Tabel 11. Resistance
To Stress Corrosion Cracking (SCC)
Alloys
|
0.8%
NaCl + 0.2% H3PO4. 141◦C
|
45% MgCl2
154◦C
|
25% NaCl
|
20.4%
MgCl2
|
||
177◦C
|
204◦C
|
204◦C 232◦C
|
||||
B-2 alloy
|
---
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
C-276 alloy
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
☼
|
C-4 alloy
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
625 alloy
|
- - -
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
H-9M alloy
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
C-22 alloy
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
Alloy 255
|
■
|
☼
|
■
|
☼
|
☼
|
☼
|
ULTIMET alloy
|
■
|
☼
|
---
|
---
|
---
|
---
|
G 30 alloy
|
■
|
■
|
■
|
■
|
■
|
☼
|
Remarks : ■ : No
cracking ☼ Cracking
|
||||||
Tabel 12. Ketahanan Korosi Di Dalam Campuran Asam (Acid
Mixtures)
g
n
i
z
u
d
e
R
¯
O
x
i
d
i
z
i
n
g
|
Media
|
B-2 alloy
|
C-276 alloy
|
C-4 alloy
|
625 alloy
|
H-9M alloy
|
C-22 alloy
|
Alloy 255
|
Ultimet alloy
|
G-30 alloy
|
52% HNO3+ 3% HCl, 80◦C
|
●
|
▲
|
--
|
▲
|
--
|
▲
|
--
|
♦
|
||
10% H2SO4 + 0,8% HCl, 80◦C
|
■
|
▲
|
▲
|
♦
|
♦
|
▲
|
--
|
●
|
▲
|
|
60% H2SO4 + 1% HF, 80◦C
|
--
|
■
|
--
|
▲
|
■
|
▲
|
♦
|
--
|
■
|
|
10%H2SO4 + 3% HF, 80◦C
|
--
|
■
|
--
|
▲
|
■
|
■
|
♦
|
--
|
▲
|
|
9% HNO3 + 4.2%
HCl, boiling
|
--
|
▲
|
--
|
●
|
--
|
●
|
●
|
--
|
●
|
|
10% HNO3 + 3% HF, 80◦C
|
--
|
♦
|
--
|
♦
|
▲
|
■
|
■
|
■
|
■
|
|
18% HNO3 + 8% HCl, 80◦C
|
--
|
♦
|
--
|
■
|
--
|
■
|
●
|
--
|
●
|
|
20% HNO3 + 5% HF, 80◦C
|
--
|
♦
|
--
|
♦
|
♦
|
♦
|
▲
|
■
|
▲
|
|
54% H2SO4 + 30% HNO3,
boiling
|
--
|
♦
|
--
|
■
|
--
|
▲
|
▲
|
--
|
■
|
|
14% H2SO4 + 32% HNO3,
boiling
|
--
|
♦
|
--
|
■
|
--
|
■
|
●
|
--
|
●
|
|
Corrosion rate
(mpy) ● 0-5 mpy; ■
6-20 mpy ; ▲ 21-50 mpy; ♦ > 51 mpy
|
||||||||||
Tabel 13. Wear
Resistance Cavitation Erosion Data
Alloy
|
Erosion Depth (mm)
|
|||
0.0
|
0.05
|
0.10
|
0.15
|
|
Alloy 255
|
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
|
|||
G-30 alloy
|
##################################################
|
|||
C-276 alloy
|
************************************************
|
|||
C-22 alloy
|
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
|
|||
Alloy 625
|
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
|
|||
Ultimet alloy
|
+++
|
|||
Note :Increasing wear resistance from alloy 255 to Ultimet alloy.
|
||||
Tabel 14. Nickel base alloys of the C-Family.
Material
|
UNS designation
|
Market introduction
|
Main alloying elements
(typical values, %)
|
|||||||
Ni
|
Cr
|
Mo
|
W
|
Fe
|
Si
|
C
|
Cu
|
|||
Alloy C
|
N10002
|
1930s
|
55
|
16
|
16
|
4
|
6
|
0.7
|
0.05
|
--
|
Alloy C- 276
|
N10276
|
1960s
|
57
|
16
|
16
|
4
|
5
|
0.04
|
0.005
|
--
|
Alloy C-4
|
N06455
|
1970s
|
66
|
16
|
16
|
--
|
2
|
0.04
|
0.005
|
--
|
Alloy C-22
|
N06022
|
abt 1985
|
57
|
21
|
13
|
3
|
3
|
0.04
|
0.005
|
--
|
Alloy 59
|
N06059
|
abt 1990
|
59
|
23
|
16
|
--
|
< 1
|
0.04
|
0.005
|
--
|
Alloy 686
|
N06686
|
abt 1994
|
56
|
21
|
16
|
4
|
2
|
0.04
|
0.005
|
--
|
Alloy C-2000
|
N06200
|
abt 1995
|
57
|
23
|
16
|
--
|
2
|
0.04
|
0.005
|
1.6
|
Tabel 15. Corrosion
rate of Nickel-base alloys of the C-family
Material
|
General corrosion, mm /
year
|
|
Test accord.
to ASTM G-28 A
|
Test accord.
to ASTM G 28 B
|
|
Alloy C-276 (Nicrofer 5716 hMoW)
|
4.2
|
1.5
|
Alloy C-4 (Nicrofer 6616 hMo)
|
3.3
|
50
|
Alloy 22 (Nicrofer 5621 hMoW)
|
0.9
|
0.17
|
Alloy 59 (Nicrofer 5923 hMo)
|
0.5
|
0.11
|
Note :
Test in sulfuric acid standard according ATM G-28 A
and B, test period 120 / 24 hours.
|
||
Tabel 16. Corrosion
test after sensitization according to ASTM G-28 B
Material
|
Semi-finished product sheet
(mm)
|
Corrosion rate, mm
/ year
|
|||
Solution annealed (SA)
< 1 hour
|
SA
1 hour
|
SA
3 hours
|
SA
5 hours
|
||
Alloy 59
|
5
|
0.09
|
0.10
|
0.10
|
0.43
|
Alloy C-276
|
5
|
0.86
|
>25.4
|
> 25.4
|
> 25.4
|
Alloy 22
|
6 - 14
|
0.10
|
8.61
|
7.95
|
>25.4
|
Alloy 686
|
3
|
0.26
|
0.43
|
2.16
|
---
|
Alloy C-2000
|
3
|
0.11
|
57.8
|
54.9
|
61.4
|
Note :
Corrosion test
of nickel base alloys of the C-family after sensitization at 870◦C.
|
|||||
Tabel 17.
Corrosion
behaviour of Ni-base alloys of the C family in sulfuric acid solution.
Material
|
Pitting corrosion /
Crevice corrosion
|
Corrosion rate,
mm / year
|
Alloy C-276 (N10276) – Nicrofer 5716 hMoW
|
none
|
0.12
|
Alloy C-4 (N06455) – Nicrofer 6616 h Mo
|
none
|
0.28
|
Alloy 22 (N06022) – Nicrofer 5621 hMoW
|
none
|
0.08
|
Alloy 59 (N06059) – Nicrofer 5923 hMo
|
none
|
0.003
|
Alloy 625 (N06625) – Nicrofer 6020 hMo
|
none
|
1.33
|
Note :
Corrosion behaviour in sulfuric acid solution (pH = 1) with
chlorine addition (7% Cl), 105◦C (boiling), test period 21 days.
|
||
Tabel 18.
Critical pitting (CPT) and Crevice Corrosion Temperature (CCT) Ni-base of the C
family.
Material
|
CPT
|
CCT
|
||
◦C
|
◦F
|
◦C
|
◦F
|
|
Alloy C-276 (N10276) – Nicrofer 5716 hMoW
|
115-120
|
239-248
|
105
|
221
|
Alloy C-4 (N06455) – Nicrofer 6616 h Mo
|
100
|
212
|
85-95
|
185-203
|
Alloy 22 (N06022) – Nicrofer 5621 hMoW
|
120
|
248
|
110
|
230
|
Alloy 59 (N06059) – Nicrofer 5923 hMo
|
> 120
|
248
|
> 110
|
230
|
Alloy 625 (N06625) – Nicrofer 6020 hMo
|
100
|
212
|
85-96
|
165-205
|
Note :
Critical pitting (CPT) and crevice corrosion temperature (CCT) in
the”green death” solutions 7 Vol.%
H2SO4 + 3 Vol.%HCl + 1%CuCl2 + 1% FeCl2
+ 6H2O after ageing for 24 hours per 5◦C (9◦F)
increase in temperature.
|
||||
Tabel
19. Corrosion behaviour of Ni-base alloys of the
C family in boiling nitric acid.
Medium
|
Corrosion rate, mm /
year
|
|||
Alloy C-276
|
Alloy 22
|
Alloy 686
|
Alloy 59
|
|
10% HNO3
|
0.48
|
0.05
|
---
|
0.05
|
65% HNO3
|
19.01
|
1.32
|
5.87
|
1.02
|
Tabel
20. Corrosion behaviour of Ni-base alloys of the
C family in dilute hydrochloric acid.
Test solution
HCl
|
Temperature,
◦C (◦F)
|
Corrosion rate, mm /
year
|
||
Alloy 22
|
Alloy C-276
|
Alloy 59
|
||
1.5%
|
boiling
|
0.87
|
0.69
|
0.38
|
2%
|
90 (194)
boiling
|
0.05
2.20
|
0.53
1.14
|
0
0.99
|
3%
|
90 (194)
boiling
|
1.41
2.55
|
0.96
2.06
|
0.05
2.05
|
5%
|
93 (199.4)
|
5.07
|
1.99
|
2.81
|
10%
|
66 (150.8)
82 (179.6)
boiling
|
0.77
3.04
9.26
|
0.44
1.56
6.07
|
0.81
2.47
7.50
|
Tabel 21.
Corrosion behaviour alloy 59 in an acetic / formic acid mixture
Medium
|
Test period, days
|
Corrosion rate, mm /
year
|
||
Base material
|
TIG
|
MAW
|
||
89% acetic acid
+ 10% formic acid
|
7
|
0.001
|
0.002
|
0.003
|
- Idem + 1% H2O
|
14
|
0.001
|
0.001
|
0.004
|
NaCl saturated, boiling
|
21
|
< 0.001
|
< 0.001
|
< 0.001
|
Note :
TIG : tungsten arc welding, a fusion welding process in which
metals are joined by heating them with an electric arc between a
nonconsumable tungsten electrode and the work.
A gas or gas mixture shields the arc and the weld puddle. Pressure may or may not be applied to the joint,
and filler metal may or may not be added.
MAW : metal arc welding, any of a group of arc welding processes
in which metals are fused together
using the heat of an arc between a metal electrode and the work.
|
||||
Tabel 22. Corrosion behaviour of Alloy 59 in
contaminated phosphoric acid.
Medium
|
Temperature
◦C (◦F)
|
Test period, days
|
Corrosion rate, mm/year
|
|
Base material
|
TIG
|
|||
42% H3PO4 (30.4%
P2O5) + 2.4%
H2SO4 + 2.3%H2SiF6
+ 1.0% Fe2O3 +
1000 ppm Cl
|
80 (176)
|
21
|
0.02
|
0.02
|
72% H3PO4 (approx.
52% P2O5) + 4.5%
H2SO4 + 0.9%
H2SiF6 + 1,5% Fe2O3 + 400 ppm Cl.
|
80 (176)
|
2
1
|
0.02
|
0.02
|
52% P2O5
|
120 (248)
|
21
|
0.13
|
0.12
|
54% P2O5
|
120 (248)
|
21
|
0.15
|
0.12
|
54% P2O5+ 2000 ppm Cl
|
120 (248)
|
7
|
2.24
|
2.03
|
54% P2O5 + 2000 ppm Cl
|
100 (212)
|
21
|
0.47
|
0.41
|
M. ASPEK METALLURGI
ALLOY NICKEL.
·
Kekuatan material alloy
nickel ditentukan oleh kombinasi :
(1) Pembentukan larutan padat (solid solution)
dan penguatan struktur matriks γ
(2) Pengerasan pengendapan (precipitation
hardening) oleh fasa Gamma – Prime (γ’),
(3) Pembentukan fasa karbida
di batas butir
(4) Penstabil permukaan spesifik.
·
Pembentukan
larutan padat dari matriks alloy Ni-base
adalah fasa austenitic (fasa γ). Dan
unsur pembentuk fasa γ adalah dari Gol V, VI, dan
VII di dalam Tabel Sistem Periodik, dan termasuk Ni, Cr, Mo, Co dan W.
·
Dengan
adanya elemen-elemen tersebut, material Ni-base
akan meningkat kekuatannya, karena mereka
berfungsi juga sebagai penghambat gerakan dislokasi
atau cross-lip.
·
Dalam
proses precipitation hardening, fasa gamma
prime γ’ adalah kontributor utama
peningkatan kekuatan material Ni-basel
alloy.
·
Umumnya
komposisi dari fasa adalah Ni3Al,
dengan status komposisi adalah Ni3Al
dengan atom Al (atom substitusi Ti, Ta dan Nb) mengisi rongga sisi pojok dan atom Ni mengisi pada sisi bidang unit sel, di bidang (111).
·
Pembentukan
fasa karbida (MC) di batas butir terbentuk dari cairan besi stainless yang mempunyai morfologi kubik cenderung menempati batas butir, sehingga berfungsi mencegah grain boundary sliding.
Oleh karenanya Ni-base mempunya sifat creep
lebih baik daripada karbida intermetallic, misalnya Fe3C.
·
Elemen
boron (B), zirconium (Zr), hafnium (Hf) dan carbon (C) cenderung menyebar dibatas butir.
·
Walaupun
karbida logam (MC) stabil pada temperatur tinggi, tetapi karbida logam MC sering tidak stabil pada
temperatur rendah dalam bentuk M23C6 dan M6C, tergantung dari
komposisi paduan :
a) MC + γ ® M23C6
+ γ’
b) MC + γ → M6C + γ’
c) MC = stabil pada temperatur
tinggi
d) M23C6 = paduan chromium tinggi guna mencegah grain boundary sliding
e)
M6C = paduan molybdenum tinggi
● Penstabil
permukaan spesifik diperoleh karena adanya elemen Cr yang akan membentuk lapisan oksida protective chromia atau chrom oksida (Cr2O3). Agar dapat berfungsi sebagai lapisan proteksi yang
baik secara empiris diperlukan
prosentase minimum Cr yaitu 20% berat.
● Unsur
lain yang mampu membentuk lapisan oksida pasif adalah aluminium (Al) yang akan membentuk Al2O3
dan lebih stabil daripada chromia; meskipun lebih mudah diserang hot corrosion.
● Elemen
penstabil permukaan diperlukan apabila material dioperasikan di dalam lingkungan yang sangat korosif dan
temperatur operasi tinggi, atau hot corrosion, yaitu permukaan material
akan bereaksi akibat berinteraksi dengan
unsur sulfur (S), sodium (Na), dan kontaminan lain yang mampu melarutkan lapisan oksida protective.
N.
Fasa perusak Ni-base alloy
·
Pada
prinsipnya mekanisme penguatan alloy
Ni-base sangat ditentukan oleh
fasa γ dan γ; keduanya merupakan fasa fungsi paduan.
·
Al dan
Ti akan meningkatkan fraksi volume termasuk
sifat kekuatan yang berkaitan
dengan precipitation hardening.
·
Beberapa
fasa yang dapat merugikan Ni-base
antara lain ; Mu (µ), Eta (η), Sigma
(σ) dan Laves; dikategorikan sebagai Topologically
closed-packed phases (TCP); yang bisa terbentuk ketika
mengalami perlakuan panas yang tidak
sesuai atau selama operasi yang menyimpang.
·
TCP phase yang berbentuk pelat (plate) akan memberikan
dampak negative terhadap kekuatan; sedangkan fasa sigma
mudah dan cenderung detrimental.
·
Fasa
yang tidak diinginkan dan masuk kategori TCP
phases adalah :
Tabel
23. TCP phases
Phase
|
Contributors
|
Sigma
|
Cr, Co, Ni, Mo, Fe, W
|
Mu
|
Cr, Co, Ni, Mo, Fe, W
|
Eta
|
Ni, Ti, Co, Al, Cr
|
Laves
|
Co, Mo, Ta
|
·
Pengaruh
positif unsur/elemen spesifik terhadap Ni-base
alloy ;
Tabel 24. Pengaruh elemen spesifik terhadap
Ni-Base alloy.
Element (s)
|
Effect (s)
|
Co, Cr, Fe, Mo, W, Ta
|
Solid-solutioning strengthening
|
W, Ta, Ti, Mo,Nb, Hf
Cr
Cr, Mo, W
Mo, W
|
Carbide formers
MC
M7C3
M23C6
M6C
|
Al, Ti, Ta, Nb
|
Forms γ, Ni3 (Al,Ti)
|
Co
|
Lowers stacking fault energy
|
Al, Cr
|
Oxidation resistance
|
B
|
Improves creep properties
|
C, B, Zr
|
Causes grain boundary segregation
|
Tabel 25. Pengaruh beberapa elemen terhadap Ni-Base alloy.
Elements
|
Effects
|
Chromium
|
Oxidation and hot corrosion resistance; solid solution
strengthening
|
Molybdenum, tungsten
|
Solid solution strengthening; form M6C carbide
|
Aluminium; titanium
|
Form γ’; Ni3(Al,Ti), hardening precipitation; Ti forms MC carbides as
well; Al enhance oxidation resistance.
|
Cobalt
|
Raises γ’ sulvus temperature
|
Boron, zirconium, hafnium
|
Improve rupture life through increases in ductility; B also forms
borides; Hf forms MC carbides and also promotes eutectic γ – γ’ formation in
cast alloy
|
Tabel 25. (lanjutan)
Elements
|
Effects
|
Carbon
|
Forms MC, M7C3, M23C6
and M6C carbides.
|
Columbium
|
Forms γ’, Ni3Cb, hardening precipitate; forms orthorhombic Ni3Cb
|
Tantalum
|
Solid solution strengthening; forms MC carbides; enhances oxidation
resistance.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar