Pengertian Hadits
|
Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan
persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum
dalam agama Islam. Hadits
dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas,
dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah
Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering
dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari,
Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam
Ibnu Majah.
Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.
·
Hadits
yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi
o
Hadits
Mutawatir
o
Hadits
Ahad
§ Hadits Shahih
§ Hadits Hasan
§ Hadits Dha'if
·
Menurut
Macam Periwayatannya
o
Hadits
yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul)
o
Hadits
yang terputus sanadnya
§ Hadits Mu'allaq
§ Hadits Mursal
§ Hadits Mudallas
§ Hadits Munqathi
§ Hadits Mu'dhol
·
Hadits-hadits
dha'if disebabkan oleh cacat perawi
o
Hadits
Maudhu'
o
Hadits
Matruk
o
Hadits
Mungkar
o
Hadits
Mu'allal
o
Hadits
Mudhthorib
o
Hadits
Maqlub
o
Hadits
Munqalib
o
Hadits
Mudraj
o
Hadits
Syadz
·
Beberapa
pengertian dalam ilmu hadits
·
Beberapa
kitab hadits yang masyhur / populer
I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya PerawiI.A. Hadits Mutawatir
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk
berdusta. Berita itu
mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu
juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi
agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir:
1.
Isi hadits itu harus hal-hal
yang dapat dicapai oleh panca indera.
2.
Orang yang menceritakannya
harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta.
Sifatnya Qath'iy.
3.
Pemberita-pemberita itu
terdapat pada semua generasi yang sama.
I.B. Hadits Ahad
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh
seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah
"zhonniy". Sebelumnya para ulama membagi
hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha'if. Namun
Imam At Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam,
yaitu:
I.B.1. Hadits Shahih
Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung
sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang
adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak
bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak
cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1.
Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.
2.
Harus bersambung sanadnya
3.
Diriwayatkan oleh orang /
perawi yang adil.
4.
Diriwayatkan oleh orang yang
dhobit (kuat ingatannya)
5.
Tidak syadz (tidak
bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
6.
Tidak cacat walaupun
tersembunyi.
I.B.2. Hadits HasanIalah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.I.B.3. Hadits Dha'ifIalah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat.II. Menurut Macam PeriwayatannyaII.A. Hadits yang bersambung sanadnyaHadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut hadits Marfu' atau Maushul.II.B. Hadits yang terputus sanadnyaII.B.1. Hadits Mu'allaq
Hadits ini disebut juga hadits yang
tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau
lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha'if.
II.B.2. Hadits Mursal
Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh para tabi'in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan
sahabat tempat menerima hadits itu.
II.B.3. Hadits Mudallas
Disebut juga hadits yang disembunyikan
cacatnya. Yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya,
padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi
hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.
II.B.4. Hadits Munqathi
Disebut juga hadits yang terputus yaitu
hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat
dan tabi'in.
II.B.5. Hadits Mu'dhol
Disebut juga hadits yang terputus
sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'it dan tabi'in dari
Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi'in yang menjadi
sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri
hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk hadits-hadits dha'if.
III. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawiIII.A. Hadits Maudhu'
Yang berarti yang dilarang, yaitu
hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya
sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.
III.B. Hadits MatrukYang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.III.C. Hadits Mungkar
Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan
oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang
diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.
III.D. Hadits Mu'allal
Artinya hadits yang dinilai sakit atau
cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis
Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata
ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma'lul (yang
dicacati) atau disebut juga hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat).
III.E. Hadits MudhthoribArtinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.III.F. Hadits MaqlubArtinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).III.G. Hadits MunqalibYaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.III.H. Hadits MudrajYaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.III.I. Hadits SyadzHadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.IV. Beberapa pengertian (istilah) dalam ilmu haditsIV.A. Muttafaq 'AlaihYaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, atau dikenal juga dengan Hadits Bukhari - Muslim.IV.B. As Sab'ahAs Sab'ah berarti tujuh perawi, yaitu:
1.
Imam Ahmad
2.
Imam Bukhari
3.
Imam Muslim
4.
Imam Abu Daud
5.
Imam Tirmidzi
6.
Imam Nasa'i
7.
Imam Ibnu Majah
IV.C. As SittahYaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal.IV.D. Al KhamsahYaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim.IV.E. Al Arba'ahYaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.IV.F. Ats tsalatsahYaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.IV.G. PerawiYaitu orang yang meriwayatkan hadits.IV.H. Sanad
Sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi
Muhammad SAW sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau
mudawwin (orang yang menghimpun atau membukukan) hadits. Sanad biasa disebut
juga dengan Isnad berarti penyandaran. Pada dasarnya orang atau ulama yang
menjadi sanad hadits itu adalah perawi juga.
IV.I. MatanMatan ialah isi hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat atau berupa taqrirnya.V. Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer
1.
Shahih Bukhari
2.
Shahih Muslim
3.
Riyadhus Shalihin
http://www.alquran-indonesia.com
|
|
|
|
Kitab Permulaan Turunnya Wahyu
|
|
Written by
Administrator
|
|
Monday, 21 December 2009 00:45
|
|
Bab
Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah saw. dan Firman Allah
Ta'ala, "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan
nabi-nabi yang kemudiannya."
l. Dari Alqamah
bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, "Saya mendengar Umar ibnul Khaththab
r.a. (berpidato 8/59) di atas mimbar, 'Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda, '(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan
niatnya (dalam satu riwayat: amal itu dengan niat 6/118) dan bagi setiap
orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya (kepada
Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan,
barangsiapa yang hijrahnya 1/20) kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya.
Atau, kepada wanita yang akan dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya
3/119), maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah."
2. Aisyah r.a.
mengatakan bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw.,
"Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?"
Rasulullah saw. menjawab, "Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku
bagaikan gemerincingnya lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu,
terputus padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya.
Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki datang
kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa yang
dikatakannya." Aisyah r.a. berkata, "Sungguh saya melihat beliau
ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin dan wahyu itu
terputus dari beliau sedang dahi beliau mengalirkan keringat"
3. Aisyah r.a.
berkata, "[Adalah 6/871] yang pertama (dari wahyu) kepada Rasulullah
saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi
melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh. Kemudian
beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah
di sana,
yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan
mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah. Beliau
mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya (dalam riwayat
lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. Ketika beliau ada di
Gua Hira, datanglah malaikat (dalam nomor 8/67) seraya berkata, 'Bacalah!'
Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap
saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata,
'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia
mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya,
lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa
membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia
melepaskan saya. Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq.
Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam.
'Allamal insaana maa lam ya'lam. 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu
Rasulullah saw. pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan hati yang
goncang (dalam satu riwayat: dengan tubuh gemetar). Lalu, beliau masuk
menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas beliau bersabda, 'Selimutilah saya,
selimutilah saya!' Maka, mereka menyelimuti beliau sehingga keterkejutan
beliau hilang. Beliau bersabda dan menceritakan kisah itu kepada Khadijah,
'Sungguh saya takut atas diriku.' Lalu Khadijah berkata kepada beliau,
'Jangan takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah tidak akan menyusahkan
engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau suka menyambung
persaudaraan (dan berkata benar), menanggung beban dan berusaha membantu
orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong penegak kebenaran.'
Kemudian Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin
Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah. Ia (Waraqah)
adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah. Ia dapat
menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil dengan bahasa Ibrani (dalam satu
riwayat: kitab berbahasa Arab. dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab) akan
apa yang dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat tua
dan tunanetra. Khadijah berkata, Wahai putra pamanku, dengarkanlah putra
saudaramu!' Lalu Waraqah berkata kepada beliau, Wahai putra saudaraku, apakah
yang engkau lihat?' Lantas Rasulullah saw: menceritakan kepadanya tentang apa
yang beliau lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, 'Ini adalah wahyu yang
diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda, sekiranya saya
masih hidup ketika kaummu mengusirmu....' Lalu Rasulullah saw. bertanya,
'Apakah mereka akan mengusir saya?' Waraqah menjawab, 'Ya, belum pernah
datang seorang laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali
ia ditolak (dalam satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika saya masih
menjumpai masamu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang tangguh.'
Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dan wahyu pun bersela, [sehingga Nabi
saw. bersedih hati karenanya - menurut riwayat yang sampai kepada kami[1]
- dengan kesedihan yang amat dalam yang karenanya berkali-kali beliau pergi
ke puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan diri dari sana. Maka, setiap kali beliau sudah sampai
di puncak dan hendak menjatuhkan dirinya, Malaikat Jibril menampakkan diri
kepada beliau seraya berkata, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah
Rasul Allah yang sebenarnya.' Dengan demikian, tenanglah hatinya dan
mantaplah jiwanya. Kemudian beliau kembali pulang. Apabila dalam masa yang
lama tidak turun wahyu, maka beliau pergi ke gunung seperti itu lagi.
Kemudian setelah sampai di puncak, maka Malaikat Jibril menampakkan diri
kepada beliau seraya berkata seperti yang dikatakannya pada peristiwa yang
lalu - 6/68]." [Namus (yang di sini diterjemahkan dengan Malaikat
Jibril) ialah yang mengetahui rahasia sesuatu yang tidak diketahui oleh orang
lain 124/4].
4. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah saw. adalah orang yang paling suka berderma [dalam kebaikan 2/228], dan paling berdermanya beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam dari [bulan 6/102] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu Jibril bertadarus Al-Qur'an dengan beliau. Sungguh Rasulullah saw. adalah [ketika bertemu Jibril - 4/81] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilepas."
Catatan
Kaki:
[1] Saya (Al-Albani) berkata, "Yang berkata, 'Menurut riwayat yang sampai kepada kami" adalah Ibnu Syihab az-Zuhri, perawi asli hadits ini dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Maka, perkataannya ini memberi kesan bahwa tambahan ini tidak menurut syarat Shahih Bukhari, karena ini dari penyampaian az-Zuhri sendiri, sehingga tidak maushul, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam Fathul Bari. Karena itu, harap diperhatikan!"
Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari - M. Nashiruddin
Al-Albani - Gema Insani Press
|
|
Kitab Iman
|
|
Written by
Administrator
|
|
Monday, 21 December 2009 00:44
|
|
Bab
Ke-1: Sabda Nabi saw., "Islam itu didirikan atas lima perkara."[1] Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan
dapat pula berkurang. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Supaya
keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)"
(al-Fath: 4), "Kami tambahkan kepada mereka petunjuk."(al-Kahfi:
13), "Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat
petunjuk." (Maryam: 76), "Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah
menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya"
(Muhammad: 17), "Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya"
(al-Muddatstsir: 31), "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya
dengan (turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini
menambah imannya." (at-Taubah: 124), "Sesungguhnya manusia telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,
maka perkataan itu menambah keimanan mereka." (Ali Imran: 173), dan
"Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan
ketundukan (kepada Allah)." (al-Ahzab: 22) Mencintai karena Allah dan
membenci karena Allah adalah sebagian dari keimanan.
1.[2] Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi sebagai berikut, "Sesungguhnya keimanan itu mempunyai beberapa kefardhuan (kewajiban), syariat, had (yakni batas/hukum), dan sunnah. Barangsiapa mengikuti semuanya itu maka keimanannya telah sempurna. Dan barangsiapa tidak mengikutinya secara sempurna, maka keimanannya tidak sempurna. Jika saya masih hidup, maka hal-hal itu akan kuberikan kepadamu semua, sehingga kamu dapat mengamalkan secara sepenuhnya. Tetapi, jika saya mati, maka tidak terlampau berkeinginan untuk menjadi sahabatmu." Nabi Ibrahim a.s. pernah berkata dengan mengutip firman Allah, "Walakin liyathma-inna qalbii" 'Agar hatiku tetap mantap [dengan imanku]'. (al-Baqarah: 260)
2.[3]
Mu'adz pernah berkata kepada kawan-kawannya, "Duduklah di sini bersama
kami sesaat untuk menambah keimanan kita."
3.[4] Ibnu Mas'ud berkata, "Yakin adalah keimanan yang menyeluruh." 4.[5] Ibnu Umar berkata, "Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat takwa yang sebenarnya kecuali ia dapat meninggalkan apa saja yang dirasa tidak enak dalam hati." 5.[6] Mujahid berkata, "Syara'a lakum" (Dia telah mensyariatkan bagi kamu) (asy-Syuura: 13), berarti, "Kami telah mewasiatkan kepadamu wahai Muhammad, juga kepadanya[7] untuk memeluk satu macam agama."
6.[8]
Ibnu Abbas berkata dalam menafsiri lafaz "Syir'atan wa minhaajan",
yaitu jalan yang lempang (lurus) dan sunnah.
7.[9] "Doamu adalah keimananmu sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya, "Katakanlah, Tuhanku tidak mengindahkan (memperdulikan) kamu, melainkan kalau ada imanmu." (al-Furqan: 77). Arti doa menurut bahasa adalah iman. 5. Ibnu Umar berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Islam dibangun di atas lima dasar: 1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah; 2) menegakkan shalat; 3) membayar zakat; 4) haji; dan 5) puasa pada bulan Ramadhan.'" Bab Ke-2: Perkara-Perkara Iman dan firman Allah, "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. "(al-Baqarah: 177) Dan firman Allah, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman." (al-Mu'miniin: 1)
6. Abu Hurairah
r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Iman itu ada enam puluh lebih
cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman."[10]
Bab Ke-3: Orang Islam Itu Ialah Seseorang yang Orang-Orang Islam Lain Selamat dari Ucapan lisannya dan Perbuatan Tangannya 7. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."
Bab Ke-4:
Islam Manakah yang Lebih Utama?
8. Abu Musa r.a.
berkata, "Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam
manakah yang lebih utama?' Beliau menjawab, 'Orang yang orang-orang Islam
lainnya selamat dari lidah dan tangannya. "'
Bab
Ke-5: Memberikan Makanan Itu Termasuk Ajaran Islam
9. Abdullah bin
Amr r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw.,
"Islam manakah yang lebih baik?" Beliau bersabda, "Kamu
memberikan makanan dan mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak
kamu kenal."
Bab Ke-6: Termasuk Iman Ialah Apabila Seseorang Itu Mencintai Saudaranya (Sesama Muslim) Sebagaimana Dia Mencintai Dirinya Sendiri 10. Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." Bab Ke-7: Mencintai Rasulullah saw. Termasuk Keimanan
11. Dari Abu
Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Demi Zat yang jiwaku
berada dalam genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), salah seorang di antara kamu
tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan
anaknya."
12. Anas r.a. berkata, "Nabi saw. bersabda, 'Salah seorang di antaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.'"
Bab
Ke-8: Manisnya Iman
13. Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, "Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran (1/11) sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka." Bab Ke-9: Tanda Keimanan Ialah Mencintai Kaum Anshar
14. Dari Anas
r.a. bahwa Nabi saw bersabda, "Tanda iman adalah mencintai orang-orang
Anshar dan tanda munafik adalah membenci orang-orang Anshar"
Bab Ke-10:
15. Dari Ubadah
bin Shamit r.a - Ia adalah orang yang menyaksikan yakni ikut bertempur dalam
Perang Badar (bersama Rasulullah saw. 4/251). Ia adalah salah seorang yang
menjadi kepala rombongan pada malam baiat Aqabah - (dan dari jalan lain:
Sesungguhnya aku adalah salah satu kepala rombongan yang dibaiat oleh
Rasulullah saw.) bahwa Rasulullah saw. bersabda dan di sekeliling beliau ada
beberapa orang sahabatnya (Dalam riwayat lain : ketika itu kami berada di
sisi Nabi saw dalam suatu majelis 8/15) [dalam suatu rombongan, lalu beliau
bersabda 8/18, "Kemarilah kalian"], "Berbaiatlah kamu kepadaku
(dalam riwayat lain: Kubaiat kamu sekalian) untuk tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anakmu
(dan kamu tidak akan merampas). Jangan kamu bawa kebohongan yang kamu
buat-buat antara kaki dan tanganmu, dan janganlah kamu mendurhakai(ku) dalam
kebaikan. Barangsiapa di antara kamu yang menepatinya, maka pahalanya atas
Allah. Barang siapa yang melanggar sesuatu dari itu dan dia dihukum
(karenanya) di dunia, maka hukuman itu sebagai tebusannya (dan penyuci
dirinya). Dan, barangsiapa yang melanggar sesuatu dari semua itu kemudian
ditutupi oleh Allah (tidak terkena hukuman), maka hal itu terserah Allah.
Jika Dia menghendaki, maka Dia memaafkannya. Dan, jika Dia menghendaki, maka
Dia akan menghukumnya." (Ubadah berkata ), "Maka kami berbaiat atas
hal itu."
Bab Ke- 11: Lari dari Berbagai Macam Fitnah adalah Sebagian dan Agama
(Imam Bukhari
mengisnadkan dalam bab ini hadits Abu Sa'id al-Khudri yang akan datang kalau
ada izin Allah dalam Al Manaqib 61/25 - Bab")
Bab Ke-12: Sabda Nabi Saw., "Aku lebih tahu di antara kamu semua tentang Allah"[11], dan bahwa pengetahuan (ma'rifah ) ialah perbuatan hati sebagaimana firman Allah, "Walaakin yuaakhidzukum bimaa kasabat quluubukum 'Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) dalam hatimu'." (al-Baqarah: 225) 16. Aisyah r.a. berkata, "Apabila Rasulullah saw. menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau terhadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.' Lalu beliau marah hingga kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau. Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling kenal tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.'" Bab Ke-13: Barangsiapa yang Benci untuk Kembali kepada Kekufuran Sebagaimana Kebenciannya jika Dilemparkan ke dalam Neraka adalah Termasuk Keimanan
(Imam Bukhari
mengisnadkan dalam bab ini hadits Anas yang telah disebutkan pada nomor 13).
Bab
Ke-14: Kelebihan Ahli Iman dalam Amal Perbuatan
17. Abu Said al-Khudri berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Ketika aku tidur, aku bermimpi manusia. Diperlihatkan kepadaku mereka memakai bermacam-macam baju, ada yang sampai susu, dan ada yang (sampai 4/201) di bawah itu. Umar ibnul Khaththab diperlihatkan juga kepadaku dan ia memakai baju yang ditariknya.' Mereka berkata, 'Apakah takwilnya, wahai Rasulullah?' Nabi bersabda, 'Agama.'" Bab Ke-15: Malu Termasuk Bagian dari Iman
18. Salim bin
Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah saw lewat pada seorang
Anshar yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain: menyalahkan 7/100)
saudaranya perihal malu. (Ia berkata, "Sesungguhnya engkau selalu merasa
malu", seakan-akan ia berkata, "Sesungguhnya malu itu
membahayakanmu.") Lalu, Rasulullah saw. bersabda, "Biarkan dia,
karena malu itu sebagian dari iman."
Bab Ke-16: Firman Allah "Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan." (at-Taubah: 5)
19. Ibnu Umar
ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Saya diperintah untuk
memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan
Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat,
dan memberikan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu, maka terpelihara
daripadaku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka
atas Allah."
Bab Ke-17: Orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya keimanan itu adalah amal perbuatan, berdasarkan pada firman Allah Ta'ala, "Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan (dalam kehidupan)." (az-Zukhruf: 72) 8.[12] Ada beberapa orang dari golongan ahli ilmu agama mengatakan bahwa apa yang difirmankan oleh Allah Ta'ala dalam surah al-Hijr ayat 92-93, "Fawarabbika lanas-alannahum ajma'iina 'ammaa kaanuu ya'maluuna" 'Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu', adalah tentang kalimat "laa ilaaha illallaah" 'Tiada Tuhan selain Allah'. Dan firman Allah, "Limitsli haadzaa falya'malil 'aamiluun" 'Untuk kemenangan semacam ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja'." (ash-Shaaffat: 61)
20. Abu Hurairah
r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. ditanya, "Apakah amal yang paling
utama?" Beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad
(berjuang) di jalan Allah." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?"
Beliau menjawab, "Haji yang mabrur."
Bab Ke-18: Jika masuk Islam tidak dengan sebenar-benarnya tetapi karena ingin selamat atau karena takut dibunuh. Hal tersebut dapat terjadi, karena Allah telah berfirman, "Orang-orang Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk." (al-Hujuurat: 14). Dan, jika masuk Islam dengan sebenar-benarnya, maka hal itu didasarkan pada firman Allah, "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam" (Ali Imran: 19), "Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya."(Ali-Imran: 85) 21. Dari Sa'ad r.a. bahwa Rasulullah saw. memberikan kepada sekelompok orang, dan Sa'ad sedang duduk, lalu Rasulullah saw meninggalkan seorang laki-laki (Beliau tidak memberinya, dan 2/131). Lelaki itu adalah orang yang paling menarik bagi saya (lalu saya berjalan menuju Rasulullah saw. dan saya membisikkan kepadanya) lantas saya berkata, "wahai Rasulullah, ada apakah engkau terhadap Fulan? Demi Allah saya melihat dia seorang mukmin." Beliau berkata, "Atau seorang muslim." Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya ketahui dari Beliau itu mengalahkan saya, lalu saya ulangi perkataan saya. Saya katakan, "Ada apakah engkau terhadap Fulan? Demi Allah saya melihatnya sebagai sebagai seorang mukmin." Beliau berkata, "Atau seorang muslim". Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya ketahui dari Beliau mengalahkan saya, dan Rasulullah saw. mengulang kembali perkataannya. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: kemudian Rasulullah saw. menepukkan tangannya di antara leher dan pundakku). Kemudian beliau bersabda, "(Kemarilah) wahai Sa'ad! Sesungguhnya saya memberikan kepada seorang laki-laki sedang orang lain lebih saya cintai daripada dia, karena saya takut ia dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka."
Abu Abdillah
berkata, "Fakubkibuu 'dibolak-balik'. Mukibban,
seseorang itu akabba apabila tindakannya tidak sampai menjadi
kenyataan terhadap seseorang lainnya. Apabila tindakan itu terjadi dalam
kenyataan, maka saya katakan, "Kabbahul-Laahu bi wajhihi 'Allah
mencampakkan wajahnya', wa kababtuhu ana 'dan saya
mencampakkannya'." [Abu Abdillah berkata, "Shalih bin Kaisan[13]
lebih tua daripada az-Zuhri, dan dia telah mendapati Ibnu Umar" 2/132].
Bab ke-19: Salam Termasuk Bagian Dari Islam
9.[14]
Ammar berkata, "Ada
tiga perkara yang barangsiapa yang dapat mengumpulkan ketiga hal itu dalam
dirinya, maka ia telah dapat mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu,
memperlakukan orang lain sebagaimana engkau suka dirimu diperlakukan oleh
orang lain, memberi salam terhadap setiap orang (yang engkau kenal maupun yang
tidak engkau kenal), dan mengeluarkan infak di jalan Allah, meskipun hanya
sedikit."
(Saya
[Al-Albani] mengisnadkan dalam bab ini hadits yang telah disebutkan di muka
pada nomor 9 [bab 5]).
Bab
Ke-20: Mengkufuri Suami, dan Kekufuran di Bawah Kekufuran
Dalam bab ini
terdapat riwayat Abu Said dari Nabi saw. (Saya katakan, "Dalam bab ini
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sepotong dari hadits Ibnu Abbas
yang akan disebutkan pada [16 - al-Kusuf / 8 - Bab])."
Bab
Ke-21: Kemaksiatan Termasuk Perbuatan Jahiliah, dan Pelakunya tidak Dianggap
Kafir Kecuali Jika Disertai dengan Kemusyrikan, mengingat sabda Nabi saw.,
"'Sesungguhnya kamu adalah orang yang ada sifat kejahiliahan dalam
dirimu'." Dan firman Allah Ta'ala, 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni
dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu,
bagi siapa yang dikehendaki-Nya'." (an-Nisaa': 48)
Bab Ke-22: "Apabila Dua Golongan Kaum Mukminin Saling Berperang, Maka Damaikanlah Antara Keduanya Itu" (al-Hujuraat : 9), dan Mereka Itu Tetap Dinamakan Kaum Mukminin.
22. Ahnaf bin
Qais berkata, "Aku pergi (dengan membawa senjataku pada malam-malam
fitnah 8/92) hendak memberi pertolongan kepada orang lain, (dalam riwayat
lain: anak paman Rasulullah saw.) kernudian aku bertemu Abu Bakrah, lalu ia
bertanya, 'Hendak ke manakah kamu?' Aku menjawab, 'Aku hendak memberi
pertolongan kepada orang ini.' Abu Bakrah berkata, 'Kembali sajalah.' Karena
saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Apabila dua orang Islam bertemu
dengan pedangnya (berkelahi), maka orang yang membunuh dan orang yang dibunuh
sama-sama di neraka.' Lalu kami bertanya, 'Ini yang membunuh, lalu
bagaimanakah orang yang dibunuh?' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya ia (orang
yang terbunuh) berkeinginan keras untuk membunuh temannya.'"
Bab Ke-23: Kezaliman yang Tingkatnya di Bawah Kezaliman
23. Abdullah
(bin Mas'ud) berkata, "Ketika turun [ayat ini 8/481, 'Orang-orang yang
beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka
itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk' (al-An'aam: 82), maka hal itu dirasa sangat berat
oleh sahabat-sahabat Rasulullah saw. (Maka mereka berkata, 'Siapakah gerangan
di antara kita yang tidak pernah menganiaya dirinya?' Lalu Allah menurunkan
ayat, 'Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar.'
(Luqman: 13) (Dan dalam riwayat lain : Rasulullah saw. bersabda, Tidak
seperti yang kamu katakan itu. (Mereka tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman). Itu ialah kemusyrikan. Apakah kamu tidak mendengar
perkataan Luqman kepada anaknya bahwa sesungguhnya syirik itu adalah
benar-benar kezaliman yang besar?)
Bab
Ke-24: Tanda-Tanda Orang Munafik
24. Abu Hurairah
r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, 'Tanda tanda orang munafik itu ada
tiga, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan
apabila dipercaya dia berkhianat."
25. Abdullah bin
Amr mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Empat (sikap 4/69) yang
barangsiapa terdapat pada dirinya keempat sikap itu, maka dia adalah seorang
munafik yang tulen. Barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari
sifat sifat itu, maka pada dirinya terdapat salah satu sikap munafik itu,
sehingga dia meninggalkannya. Yaitu, apabila dipercaya dia berkhianat (dan
dalam satu riwayat: apabila berjanji dia ingkar), apabila berbicara dia
berdusta, apabila berjanji dia menipu, dan apabila bertengkar dia
curang."
Bab
Ke-25: Mendirikan Shalat Pada Malam Lailatul Qadar Termasuk Keimanan
26. Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah saw, bersabda, 'Barangsiapa yang menegakkan (shalat) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.'"
Bab
Ke-26: Melakukan Jihad Termasuk Keimanan
27. Abu Hurairah
mengatakan bahwa (dan dalam jalan lain disebutkan: Dia berkata, "Saya
mendengar 3/203) Nabi saw. bersabda, 'Allah menjamin orang yang keluar di
jalan Nya, yang tidak ada yang mengeluarkannya kecuali karena iman kepada Nya
dan membenarkan rasul-rasul Nya, bahwa Dia akan memulangkannya dengan
mendapatkan pahala atau rampasan (perang), atau Dia memasukkannya ke dalam
surga. Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, niscaya saya tidak
duduk-duduk di belakang. (Dari jalan lain disebutkan: Demi Zat yang diriku
berada dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena khawatir bahwa banyak orang
dari kaum mukminin tidak senang hatinya ketinggalan dari saya, dan saya tidak
dapat mengangkut mereka, niscaya saya tidak akan tertinggal dari 3/ 203)
pasukan [yang berperang di jalan Allah]. [Tetapi, saya tidak mendapatkan
kendaraan dan tidak mendapatkan sesuatu untuk mengangkut mereka, dan berat
bagi saya kalau mereka tertinggal dari saya 8/11]. [Dan demi Zat yang diriku
berada dalam genggaman Nya 8/ 128] sesungguhnya saya ingin terbunuh di jalan
Allah, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan
lagi, kemudian terbunuh lagi."
Bab Ke-27: Melakukan Sunnah Shalat Malam Bulan Ramadhan Termasuk Keimanan 28. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa menunaikan shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu." Bab Ke-28: Melakukan Puasa Ramadhan Karena Mengharap Keridhaan Allah Termasuk Keimanan
29. Abu Hurairah
berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa berpuasa pada bulan
Ramadhan karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah
dosa-dosanya yang telah lalu."
Bab Ke-29: Agama Itu Mudah,[15] dan Sabda Nabi saw., "Agama yang Paling Dicintai Allah Ialah yang Lurus dan Lapang."
30. Abu Hurairah
mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya agama ini mudah, dan
tidak akan seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan akan
mengalahkannya. Maka, berlaku luruslah, berlaku sedanglah, bergembiralah, dan
mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan sedikit pada akhir
malam."
Bab Ke-30: Shalat Termasuk Iman, dan Firman Allah, "Allah tidak akan menyia-nyiakan keimananmu", yakni Shalatmu di Sisi Baitullah
31. Al-Barra'
mengatakan bahwa ketika Nabi saw. pertama kali tiba di Madinah, beliau
singgah pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kaum Anshar. Beliau
melakukan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan
atau tujuh belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya menghadap ke
Baitullah. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin menghadap ke
Ka'bah 1/104). Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah shalat ashar,
dan orang-orang pun mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah seorang
laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau, lalu melewati orang-orang
di masjid [dari kalangan Anshar masih shalat ashar dengan menghadap Baitul
Maqdis] dan ketika itu mereka sedang ruku. Lalu laki-laki itu berkata,
"Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku telah selesai melakukan
shalat bersama Rasulullah saw dengan menghadap ke Mekah." Maka,
berputarlah mereka sebagaimana adanya itu menghadap ke arah Baitullah [sambil
ruku 8/134], [sehingga mereka semua menghadap ke arah Baitullah].
Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw. shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit." Lalu, beliau menghadap ke arah Ka'bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, "Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" (Surat al-Baqarah - 143)]. Bab Ke-31: Baiknya Keislaman Seseorang 6.[16] Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya." 32. Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah saw bersabda, Apabila seseorang di antara kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya balasan yang sepadan dengan kejelekan itu." Bab Ke-32: Amalan dalam Agama yang Paling Dicintai Allah Azza wa Jalla Ialah yang Dilakukan Secara Konstan (Terus Menerus / Berkesinambungan)
33. Aisyah r.a.
mengatakan bahwa Nabi saw: masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang
wanita [dari Bani Asad 2/48], lalu Nabi bertanya, "Siapakah ini?"
Aisyah menjawab, "Si Fulanah [ia tidak pernah tidur malam], ia
menceritakan shalatnya." Nabi bersabda, "Lakukanlah [amalan]
menurut kemampuanmu. Karena demi Allah, Allah tidak merasa bosan (dan dalam
satu riwayat: karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan) sehingga kamu
sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai-Nya ialah apa yang
dilakukan oleh pelakunya secara kontinu (terus menerus /
berkesinambungan)."
Bab Ke-33: Keimanan Bertambah dan Berkurang. Firman Allah, "Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk" (al-Muddatstsir: 31) dan "Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu" (al-Maa'idah: 3). Apabila seseorang meninggalkan sebagian dari kesempurnaan agamanya, maka agamanya tidaklah sempurna.
34. Anas r.a.
mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang
mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada
kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17])
seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak
ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji
burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan
melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."
35. Umar ibnul-Khaththab r.a. mengatakan bahwa seorang Yahudi berkata (dan dalam suatu riwayat: beberapa orang Yahudi berkata 5/127) kepadanya, "Wahai Amirul Mu'minin, suatu ayat di dalam kitabmu yang kamu baca seandainya ayat itu turun atas golongan kami golongan Yahudi, niscaya kami jadikan hari raya." Umar bertanya, "Ayat mana itu?" Ia menjawab, "Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu 'alaikum ni'matii waradhiitu lakumul islaamadiinan" 'Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan atasmu nikmat-Ku dan Aku rela Islam sebagai agamamu'." Lalu Umar berkata, "Kami telah mengetahui hari itu dan tempat turunnya atas Nabi saw., yaitu beliau sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat. [Demi Allah, saya pada waktu itu berada di Arafah]." Bab Ke-34: Membayar Zakat adalah Sebagian dari Islam. Firman Allah, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus." 36. Thalhah bin Ubaidillah r.a. berkata, "Seorang laki-laki (dalam satu riwayat disebutkan: seorang Arab dusun 2/225) penduduk Najd datang kepada Rasulullah saw. dengan morat-marit (rambut) kepalanya. Kami mendengar suaranya tetapi kami tidak memahami apa yang dikatakannya sehingga dekat. Tiba-tiba ia bertanya tentang Islam (di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ia berkata, 'Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah shalat yang diwajibkan Allah atas diriku?). Lalu Rasulullah saw. bersabda, "Shalat lima kali dalam sehari semalam." Lalu ia bertanya lagi, "Apakah. ada kewajiban atasku selainnya?" Beliau bersabda, "Tidak, kecuali kalau engkau melakukan yang sunnah." Rasulullah saw. bersabda, "Dan puasa (dan di dalam satu riwayat disebutkan: "Beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah puasa yang diwajibkan Allah atasku?" Lalu beliau menjawab, "Puasa pada bulan") Ramadhan." Ia bertanya lagi, "Apakah ada kewajiban atasku selainnya?" Beliau bersabda, "Tidak, kecuali sunnah." [Lalu dia berkata, "Beri tahukanlah kepadaku, apakah zakat yang diwajibkan Allah atasku?" 2/225]. Thalhah berkata, "Rasulullah saw. menyebutkan kepadanya zakat" (Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam). Lalu dia bertanya, "Apakah ada kewajiban selainnya atas saya?" Beliau menjawab, "Tidak, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunnah." Kemudian laki-laki itu berpaling seraya berkata, "Demi Allah, saya tidak menambah dan tidak pula mengurangi [sedikit pun dari apa yang telah diwajibkan Allah atas diri saya] ini." Rasulullah saw bersabda, "Berbahagialah dia, jika (dia) benar." Bab Ke-35: Mengantarkan Jenazah adalah Sebagian dari Keimanan 37. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang mengiringkan jenazah orang Islam karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, dan ia bersamanya sehingga jenazah itu dishalati dan selesai dikuburkan, maka ia kembali mendapat pahala dua qirath yang masing-masing qirath seperti Gunung Uhud. Barangsiapa yang menyalatinya kemudian ia kembali sebelum dikuburkan, maka ia kembali dengan (pahala) satu qirath." Bab Ke-36: Kekhawatiran Orang yang Beriman jika Sampai Terhapus Amalnya Tanpa Disadarinya
9.[18]
Ibrahim at Taimi berkata, 'Tidak pernah perkataanku sebelum aku melakukan
(atau) aku menunjukkan amal perbuatanku, melainkan aku takut kalau-kalau aku
nanti akan disudutkan oleh amalan yang tidak jadi aku lakukan."
10.[19] Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Aku mengunjungi tiga puluh sahabat Nabi saw. dan masing-masing khawatir dengan munafik dan tak seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sama kuatnya seperti yang ada pada Jibril dan Mikail." 11.[20] Al-Hasan al-Bashri berkata, 'Tiada seorang pun yang takut akan hal itu (yakni kemunafikan) melainkan ia adalah orang mukmin yang sebenar-benarnya dan tiada seorang pun yang merasa aman akan hal itu melainkan ia pasti seorang yang munafik." 38. Ziad berkata, "Aku bertanya kepada Wa-il tentang golongan Murji-ah,[21] lalu dia berkata, 'Aku diberi tahu oleh Abdullah bahwa Nabi saw bersabda', "Mencaci maki orang muslim adalah fasik dan memeranginya adalah kafir."
Bab
Ke-37: Pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi saw tentang iman, Islam, ihsan,
pengetahuan tentang hari kiamat, dan keterangan yang diberikan Nabi saw.
kepadanya, lalu beliau bersabda, "Malaikat Jibril as. datang untuk
mengajarkan kepada kalian agama kalian." Maka, Nabi saw. menganggap
bahwa semuanya itu sebagai agama.[22] Semua yang diterangkan Nabi saw. kepada tamu Abdul Qais
(tersebut) termasuk keimanan. Dan firman Allah, "Barangsiapa mencari
agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu
daripadanya. " (Ali Imran : 85)
(Saya berkata,
"Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Jibril yang diisyaratkan
itu dari hadits Abu Hurairah yang akan datang [65-at-Tajsir/21-asSurah
2-Bab]").
Abu Abdillah
berkata, "Beliau menjadikan semua itu termasuk keimanan."
Bab
Ke-38:
(Saya berkata,
"Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dan hadits Abu
Sufyan yang panjang dalam dialognya dengan Heraklius sebagaimana yang akan
disebutkan pada "56 - al-Jihad/102 - BAB.....")"
Bab Ke-39: Keutamaan Orang yang Membersihkan Agamanya
39. An-Nu'man
bin Basyir berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Yang
halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
hal-hal musyabbihat (dan dalam satu riwayat: perkara-perkara musytabihat /
samar, tidak jelas halal-haramnya, 3/ 4), yang tidak diketahui oleh
kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia
telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus
dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan,
hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. (Dalam satu riwayat disebutkan bahwa
barangsiapa yang meninggalkan apa yang samar atasnya dari dosa, maka terhadap
yang sudah jelas ia pasti lebih menjauhinya; dan barangsiapa yang berani
melakukan dosa yang masih diragukan, maka hampir-hampir ia terjerumus kepada
dosa yang sudah jelas). Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah
larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal
yang diharamkan-Nya (dan dalam satu riwayat: kemaksiatan-kemaksiatan itu
adalah tanah larangan Allah). Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat
daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila
sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia
itu adalah hati."
Bab Ke-40: Memberikan Seperlima dari Harta Rampasan Perang Termasuk Keimanan
40. Abi Jamrah
berkata, "Aku duduk dengan Ibnu Abbas dan ia mendudukkan aku di tempat
duduknya. Dia berkata, Tinggallah bersamaku sehingga aku berikan untukmu satu
bagian dari hartaku.' Maka, aku pun tinggal bersamanya selam dua bulan. (Dan
dalam satu riwayat: 'Aku menjadi juru bicara antara Ibnu Abbas dan masyarakat
1/ 30). (Kemudian pada suatu saat dia berkata kepadaku). (Dan dalam satu
riwayat: Aku berkata kepada Ibnu Abbas, 'Sesungguhnya aku mempunyai guci
untuk membuat nabidz 'minuman keras', lalu aku meminumnya dengan
terasa manis di dalam guci itu jika aku habis banyak. Kemudian aku duduk
bersama orang banyak dalam waktu yang lama karena aku takut aku akan
mengatakan sesuatu yang memalukan.' (Lalu Ibnu Abbas berkata 5/116),
'Sesungguhnya utusan Abdul Qais ketika datang kepada Nabi saw., beliau
bertanya, 'Siapakah kaum itu atau siapakah utusan itu?' Mereka menjawab,
'[Kami adalah satu suku dari 7/114] Rabi'ah.' (Dan dalam satu riwayat: 'Maka
kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada setiap bulan Haram' 4/157).
Beliau bersabda, 'Selamat datang kaum atau utusan (yang datang) tanpa tidak
kesedihan dan penyesalan." Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami tidak dapat datang kepada engkau kecuali pada bulan Haram,
karena antara kita ada perkampungan ini yang (berpenghuni) kafir mudhar.
[Kami datang kepadamu dari tempat yang jauh], maka perintahkanlah kami dengan
perintah yang terperinci (dan dalam satu riwayat: dengan sejumlah perintah).
[Kami ambil dari engkau dan 1/133] kami beri tahukan kepada orang-orang yang
di belakang kami dan karenanya kami masuk surga [jika kami mengamalkannya'
8/217]. Mereka bertanya kepada beliau tantang minuman. Lalu beliau menyuruh
mereka dengan empat perkara dan melarang mereka (dan dalam satu riwayat
disebutkan bahwa beliau bersabda, 'Aku perintahkan kamu dengan empat perkara
dan aku larang kamu) dari empat perkara, yaitu aku perintahkan kamu beriman
kepada Allah (Azza wa Jalla) saja.' Beliau bertanya, 'Tahukah kalian apakah
iman kepada Allah sendiri itu? Mereka berkata, 'Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.' Beliau bersabda, 'Bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan
sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah [dan beliau menghitung dengan jarinya
4/44], mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa Ramadhan, dan kalian
memberikan harta seperlima harta rampasan perang. Lalu, beliau melarang
mereka dari empat hal yaitu (dan dalam satu riwayat: Janganlah kamu minum
dalam) guci hijau, labu kering, pohon korma yang diukir, dan sesuatu yang
dilumuri fir (empat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras).'
Barangkali beliau bersabda (juga), 'Barang yang dicat.' Dan beliau bersabda,
'Peliharalah semua itu dan beri tahukanlah kepada orang yang di belakang
kalian!"
Bab Ke-41: Keterangan tentang apa yang terdapat dalam hadits bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niat dan harapan memperoleh pahala dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bab ini meliputi keimanan, wudhu, shalat, zakat, haji, puasa, dan hukum-hukum. Allah berfirman, "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. " (al-Israa': 84)
10.[23]
Nafkah yang dikeluarkan seorang laki-laki untuk keluarganya dengan niat untuk
memperoleh suatu pahala dari Allah adalah sedekah.
11.[24] Nabi saw bersabda, "Tetapi jihad dan niat." Bab Ke-42: Sabda Nabi saw., "Agama adalah nasihat (kesetiaan) kepada Allah, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan umat nya."[25] Dan firman Allah Ta'ala, "Apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul Nya."(at-Taubah: 91)
41. Jarir bin
Abdullah berkata, "Saya berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk [bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,
dan 3/27] mendirikan shalat, memberikan zakat, [mendengar dan patuh, lalu
beliau mengajarkan kepadaku apa yang mampu kulakukan 8/122], dan memberi
nasihat kepada setiap muslim." Dan, menurut riwayat lain dari Ziyad bin
Ilaqah, ia berkata, "Saya mendengar Jarir bin Abdullah berkata pada hari
meninggalnya Mughirah bin Syu'bah. Ia (Jarir) berdiri, lalu memuji dan
menyanjung Allah, lalu berkata, 'Hendaklah kamu semua bertakwa kapada Allah
Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Juga hendaklah kamu semua bersikap
tenang dan tenteram sehingga amir, penguasa daerah, datang padamu, sebab ia
nanti akan datang ke sini.' Kemudian ia berkata lagi, 'Berilah maaf pada
amirmu (pemimpinmu), sebab pemimpin (kalian) senang memberi maaf orang lain.
Seterusnya Jarir berkata, 'Amma ba'du, (kemudian) aku datang kepada Nabi saw.
dan aku berkata, 'Aku berbaiat kepadamu atas Islam.' Lalu beliau mensyaratkan
atasku agar menasihati setiap muslim. Maka, saya berbaiat kepada beliau atas
yang demikian ini. Demi Tuhan Yang Menguasai masjid ini, sesungguhnya aku ini
benar-benar memberikan nasihat kepada kamu sekalian.' Sehabis itu ia
mengucapkan istighfar (mohon pengampunan kepada Allah), lalu turun (yakni
duduk)."
Catatan
Kaki:
[1]
Ini adalah potongan dari hadits Ibnu Umar, yang di-maushul-kan oleh penyusun
(Imam Bukhari) dalam bab ini.
[2] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab al-Iman nomor 135
dengan pentahkikan saya, dan sanadnya adalah sahih. Ini juga diriwayatkan
oleh Ahmad dalam al-Iman sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh.
[3] Di-maushul-kan juga oleh Ibnu Abi Syaibah nomor 105 dan 107, dan
oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dalam Al-Iman juga nomor 30 dengan
pentahkikan saya dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.
[4] Di-maushul-kan oleh Thabrani dengan sanad sahih dari Ibnu Mas'ud
secara mauquf, dan diriwayatkan secara marfu' tetapi tidak sah, sebagaimana
dikatakan oleh al-Hafizh.
[5] Al-Hafizh tidak memandangnya maushul. Akan tetapi, hadits yang
semakna dengan ini terdapat di dalam Shahih Muslim dan lainnya dari hadits
an-Nawwas secara marfu. Silakan Anda periksa kalau mau di dalam kitab saya
Shahih al-Jami' ash-Shaghir (2877).
[7] Yakni Nuh a.s. sebagaimana disebutkan dalam konteks ayat, "Dia
telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang diwasiatkan-Nya kepada
Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama
yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya) orang yang kembali
(kepada-Nya). " (asy-Syuura: 13)
[10] Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dengan lafal Sab'uuna 'tujuh
puluh', dan inilah yang kuat menurut pendapat saya, mengikuti pendapat
Al-Qadhi Iyadh dan lainnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam Silsilatul
Ahaditsish Shahihah (17).
[12] Al-Hafizh berkata, "Di antaranya adalah Anas, yang diriwayatkan
oleh Tirmidzi dan lain-lainnya, tetapi di dalam isnadnya terdapat kelemahan.
Dan di antaranya lagi Ibnu Umar sebagaimana disebutkan dalam Tafsir
ath-Thabari dan kitab Ad-Du'a karya ath-Thabrani. Dan di antaranya lagi
adalah Mujahid sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Abdur Razzaq, dan
lain-lainnya."
[14] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (131) dengan sanad sahih dari Ammar secara mauquf. Lihat takhrijnya di dalam catatan kaki saya terhadap kitab Al-Kalimuth Thayyib nomor 142, terbitan Al-Maktabul-Islami.
[15] Di-maushul-kan oleh penyusun di dalarn Al-Adabul Mufrad dan oleh
Ahmad dan lain-lainnya dari hadits Ibnu Abbas recara marfu', sedangkan dia
adalah hadits hasan sebagaimana sudah saya jelaskan dalam Al-Ahaadiitsush
Shahihah (879).
[16] Hadits Ini menurut penyusun (Imam Bukhari) rahimahullah adalah
mu'allaq, dan dia di-maushul-kan oleh Nasaa'i denqan sanad sahih, sebagaimana
telah ditakhrij dalam Al-Ahaadiitsush Shahihah (247).
[17] Di-maushul-kan oleh Hakim dalam Kitab Al-Arba'in dan di situ Qatadah
menyampaikan dengan jelas dengan menggunakan kata tahdits
'diinformasikan' dari Anas. Saya (Al-Albani) katakan, "Dan
di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dari jalan lain dari Anas di
dalam hadits safa'at yang panjang, dan akan disebutkan pada "(7
-At-Tauhid / 36)".
[18] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam At-Tarikh dan Ahmad dalam Az-Zuhd
dengan sanad sahih darinya.
[19] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikh-nya, tetapi dia tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian pula Ibnu Nashr di dalam Al-Iman, dan Abu Zur'ah ad-Dimasyqi di dalam Tarikh-nya dari jalan lain darinya sebagaimana disebutkan di sini. [20] Di-maushul-kan oleh Ja'far al-Faryabi di dalam Shifatul Munafiq dari beberapa jalan dengan lafal yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan sahihnya riwayat ini darinya. Maka, bagaimana bisa terjadi penyusun meriwayatkannya dengan menggunakan kata-kata "wa yudzkaru" 'dan disebutkan' yang mengesankan bahwa ini adalah hadits dhaif? Al-Hafizh menjawab hal itu yang ringkasnya bahwa penyusun (Imam Bukhari) tidak mengkhususkan redaksi tamridh 'melemahkan' ini sebagai melemahkan isnadnya, bahkan dia juga menyebutkan matan dengan maknanya saja atau meringkasnya juga. Hal ini perlu dipahami karena sangat penting. [21] Mereka adalah salah satu dari kelompok-kelompok sesat. Mereka berkata, "Maksiat itu tidak membahayakan iman."
[23] Ini adalah bagian dari hadits Abu Mas'ud al-Badri yang
di-maushul-kan oleh penyusun pada (69 - an-Nafaqat / 1- BAB).
[24] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan secara maushul pada (56 al-Jihad / 27-BAB).
[25] Di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari,
dan hadits ini telah ditakhrij dalam Takhrij al-Halal (328) dan Irwa-ul
Ghalil (25).
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar