Bila Orang Tua Berbuat Maksiat, Apa Yang Harus Dilakukan Anak?
Kategori : Wanita : Konsultasi
Allah Azza wa Jalla sudah menyatakan bahwa Nabi Ibrâhîm Alaihissallam
merupakan qudwah hasanah (teladan yang baik) bagi umat manusia. Salah
satunya, dalam kegelisahan beliau yang sangat dalam karena sang bapak
Azar , masih bergelut dengan penyembahan berhala dan patung-patung.
Tiada kata putus asa bagi Nabi Ibrâhîm Alaihissallam. Al-Qur`ân telah
menceritakan di beberapa surat bagaimana besarnya sopan-santun dan
kegigihan beliau mendakwahi orang tua. Yang menarik dan mesti ditiru
oleh anak-anak saat menghadapi perbuatan maksiat orang tua mereka adalah
tauladan dari Nabi Ibrâhîm Alaihissallam selalu menghiasi diri dengan
sifat al-hilm (bijak dan penuh kelembutan). Beliau mempunyai
kasih-sayang terhadap sesama, dan memaafkan perlakuan-perlakuan tidak
baik kepadanya yang muncul dari orang-orang lain. Sikap tidak sopan
orang lain tidak membuat beliau antipati, tidak menyikapi orang jahat
dengan tindakan serupa
Apakah Perbuatan Zina Diampuni?
Kategori : Wanita : Konsultasi
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya….. Berkaitan dengan penjelasan ayat di atas, Syaikh
Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya (1/426) berkata:
"(Dalam ayat ini) Allah mengkabarkan kepada kita, orang yang berbuat
syirik kepada-Nya (menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain dari
makhluknya dalam beribadah) tidak akan diampuni oleh-Nya. Dan Allah akan
mengampuni dosa-dosa lainnya selain syirik, baik itu dosa besar ataupun
dosa kecil. Itupun, bila Allah menghendakinya".. Penjelasan di atas pun
berlaku, jika si pelaku dosa (maksiat) tersebut tidak istihlâl (yakni,
selama ia tidak menganggap perbuatan yang haram tersebut boleh atau
halal dilakukan). Karena, orang yang melakukan perbuatan yang haram
(maksiat) dengan berkeyakinan bahwa perbuatan tersebut merupakan
perbuatan yang boleh dan halal dilakukan, maka orang ini kafir
berdasarkan kesepakatan para ulama.
Istri Menggugat Cerai Suami
Kategori : Wanita : Konsultasi
Para suami dan istri, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa
mencurahkan ketenangan, mawadah wa rahmah di tengah keluarga kita. Islam
mensyariatkan hubungan pernikahan agar menjadi hubungan yang langgeng,
abadi dan tidak runtuh. Di dalamya tumbuh kesepahaman dan mengikis
perbedaan. Pedoman-pedoman umum rumah tangga juga ditetapkan, supaya
ketenangan dan stabilitas menaungi keberadaan sebuah keluarga. Dan
pernikahan merupakan jalinan ikatan yang kuat lagi sakral dalam Islam.
Allah menamakannya sebagai mitsâq ghalîzh (perjanjian yang kuat).
Karenanya, masalah-masalah yang berkembang seputar pernikahan
mendapatkan perhatian yang besar, tidak dibiarkan tanpa tuntunan. Dengan
demikian, pengaruh hawa nafsu dapat dihalau dari pasangan suami istri.
Dan mereka pun mengemudikan biduk rumah tangga dengan tuntunan yang
jelas. Pembagian tugas antara suami istri sudah digariskan. Yaitu dengan
mempertimbangkan tabiat dan keadaan masing-masing. Yakni dengan
mengedepankan asas keadilan dan petunjuk yang lurus. Meski kaidah
syariat sudah ditegakkan untuk mempertahankan keutuhan keluarga, akan
tetapi faktor kekeliruan dan kesalahpahaman yang menjadi tabiat manusia,
tetap memiliki potensi yang dapat menggoncang ketentraman kehidupan
suami istri
Cara Menjalani Hidup Menjanda
Kategori : Wanita : Konsultasi
Pertama-tama, kami ingin menekankan bahwa perceraian bagaimanapun tidak
lepas dari takdir dan ketentuan Allah Azza wa Jalla. Sedih pasti ada.
Mengingat rumah tangga yang didamba keutuhan dan kekokohan sendinya
ternyata harus luluh-lantak di tengah jalan. Apa boleh buat. Ketabahan,
ketegaran dan ridha itulah jawaban untuk menghadapi apa yang sedang Anda
alami. Wallahul musta'ân (Hanya Allah Azza wa Jalla lah tempat memohon
pertolongan). Setelah kejadian tidak mengenakkan ini, cobalah lakukan
introspeksi diri. Jangan melulu menyalahkan mantan suami atau pihak
ketiga. Mungkin saja, Anda telah berbuat sesuatu yang menyumbang
terjadinya keretakan rumah tangga, disamping apa yang dilakukan suami –
dan pihak ketiga - menurut pengamatan Anda. Misalnya, tidak menjalankan
salah satu hak suami Anda dengan sebaik-baiknya. Introspeksi ini bisa
menjadi salah satu faktor penenang hati, lantaran telah terbentuk
kesadaran kalau kita juga kadang mau menangnya sendiri, berbuat salah
tapi tidak menyadari, atau terlalu mengedepankan ego pribadi. Dengan
begitu, kesalahan yang sama insya Allah Azza wa Jalla tidak terulang
lagi di masa depan, apalagi bila Anda dimudahkan oleh Allah Azza wa
Jalla mendapatkan pasangan hidup baru.
Suami Tak Peduli Mertuanya …
Kategori : Wanita : Konsultasi
Seorang muslim, bukanlah makhluk individu. Tetapi ia juga merupakan
makhluk sosial. Artinya, ia memiliki dan memerlukan lingkungan untuk
berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, sebagai anggota masyarakat,
tetangga, pegawai, pembeli, pedagang dan lain-lain. Dia mempunyai
kewajiban kepada orang lain, meskipun keterkaitannya berbeda-beda.
Begitu juga yang berhubungan dengan sesama anggota keluarga, pasti
memiliki keterikatan yang saling memerlukan. Baik yang bersifat
material, moril atau kebutuhan lainnya. Semua ikatan ini akan dapat
menguatkan rasa saling menghargai, menghormati, dan sangat mungkin
mempererat tali persaudaraan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi
moral, dan untuk perbaikan akhlak manusia. Baik akhlak kepada
Rabbul-'Alamin, sesama manusia, dan juga kepada orang tua. Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kita agar berbuat ihsân kepada
sesama dalam firman-Nya: "Dan berbuat baiklah (ihsân) kepada dua orang
ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga
yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahayamu…"
Kepada Siapa Seharusnya Aku Berbakti ?
Kategori : Wanita : Konsultasi
Sejatinya seorang menantu jangan terburu-buru untuk berburuk sangka
terhadap sikap mertua. Sebab orang tua suami juga merupakan orang tua
Anda. Maka, berusahalah untuk dapat berbuat baik kepada orang tua suami.
Selagi bentuk intervensi mertua adalah sebagai nasehat, mengapa kita
harus merasa resah atau malah menolaknya. Setiap orang tua ingin melihat
anaknya bahagia dan dapat membina keluarga yang sakinah, mawadah dan
rahmah. Bahkan terkadang dalam pandangan syariat, jika orang tua
menyuruh anak laki-lakinya untuk menceraikan istrinya dengan berbagai
alasan yang syar’i (jika memang ada indikasi bahwa sikap istri bisa
mempengaruhi agama dan akhlak suami) maka suami harus menceraikan
istrinya. Terdapat riwayat dalam Shahîh al-Bukhâri yang mengisahkan
bahwa Nabi Ibrâhîm Alaihissallam menyuruh putranya Ismaîl Alaihissallam
untuk menceraikan istrinya tatkala melihat adanya keburukan yang
mempengaruhi hubungan rumah tangga anaknya, maka Ismail pun menceraikan
istrinya. Demikian pula dalam riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari
'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhuma dia berkata : Dahulu, aku punya
istri yang sangat aku cintai. Namun (ayahku) 'Umar bin Khatthab tidak
menyukainya dan berkata padaku : "Ceraikan dia (istriku)". Namun, aku
enggan menceraikannya. Akhirnya, 'Umar datang menghadap Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam seraya menceritakan kejadian tadi. Lalu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Ceraikan di (istrimu)". .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar